Prancis Khawatirkan Nasib Gencatan Senjata di Suriah
Rabu, 20 April 2016 - 12:35 WIB
Prancis Khawatirkan Nasib Gencatan Senjata di Suriah
A
A
A
PARIS - Pemerintah Prancis mengkhawatirkan nasib gencatan senjata di Suriah, yang berada di ujung tanduk. Kekhawatiran ini muncul setelah adanya pernyataan dari opssisi Suriah yang menyebut diri mereka sebagai Komite Tinggi Negosiasi, yang mengatakan bahwa gencatan senjata di Suriah sudah berakhir.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean Marc Ayrault menuturkan, pihaknya sudah sedari awal merasa bahwa gencatan senjata ini adalah sesuatu hal yang sangat rapuh. Hal kecil bisa dengan mudah merusak gencatan senjata, dan membuat Suriah kembali terjebak dalam pertempuran.
"Keprihatinan saya terhubung dengan pelaksanaan gencatan senjata. Kita perlu untuk melakukan segala kemungkinan yang ada untuk memastikan proses politik yang ada untuk terus berlanjut," ucap Ayrault paska melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Dalam pernyatannya, seperti dilansir Russia Today pada Rabu (20/4), Ayrault juga menyebut Rusia sebagai pemain kunci bersama dengan Amerika Serikat (AS) dalam upaya damai di Suriah. Alasannya, Rusia punya pengaruh besar pada pemerintah Suriah, sedangkan AS pada oposisi Suriah.
"Rusia memiliki hubungan bersejarah dengan Damaskus. Dengan demikian Rusia dapat berkontribusi pada pembangunan masa transisi yang nyata, yang akan membantu memulihkan kondisi Suriah. Kami harus memainkan peran kami. Rusia telah memainkan peran kunci, membuat langkah yang sangat penting," tambahnya.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean Marc Ayrault menuturkan, pihaknya sudah sedari awal merasa bahwa gencatan senjata ini adalah sesuatu hal yang sangat rapuh. Hal kecil bisa dengan mudah merusak gencatan senjata, dan membuat Suriah kembali terjebak dalam pertempuran.
"Keprihatinan saya terhubung dengan pelaksanaan gencatan senjata. Kita perlu untuk melakukan segala kemungkinan yang ada untuk memastikan proses politik yang ada untuk terus berlanjut," ucap Ayrault paska melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Dalam pernyatannya, seperti dilansir Russia Today pada Rabu (20/4), Ayrault juga menyebut Rusia sebagai pemain kunci bersama dengan Amerika Serikat (AS) dalam upaya damai di Suriah. Alasannya, Rusia punya pengaruh besar pada pemerintah Suriah, sedangkan AS pada oposisi Suriah.
"Rusia memiliki hubungan bersejarah dengan Damaskus. Dengan demikian Rusia dapat berkontribusi pada pembangunan masa transisi yang nyata, yang akan membantu memulihkan kondisi Suriah. Kami harus memainkan peran kami. Rusia telah memainkan peran kunci, membuat langkah yang sangat penting," tambahnya.
(esn)