Panama Papers Bikin Banyak Negara Selidiki Keuangan Orang Kaya

Selasa, 05 April 2016 - 11:57 WIB
Panama Papers Bikin...
Panama Papers Bikin Banyak Negara Selidiki Keuangan Orang Kaya
A A A
PANAMA CITY - Pemerintah di berbagai negara mulai menyelidiki kemungkinan kesalahan dari keuangan orang-orang kaya dan berkuasa. Langkah itu menyusul bocoran “Panama Papers” tentang dugaan orang-orang kaya yang menyembunyikan kekayaan dengan menggelapkan pajak melalui firma hukum Panama, Mossack Fonseca.

Bocoran “Panama Papers” berisi 11,5 juta dokumen klien pajak Mossack Fonseca yang dirilis media Jerman hari Minggu lalu. Dokumen itu diperoleh dari pembocor dokumen anonim yang sengaja membocorkannya tanpa imbalan finansial.

Bocoran data “Panama Papers” juga merupakan yang terbesar dalam sejarah jurnalistik, di mana 12 pemimpin dunia disebut masuk dalam daftar itu.

Dokumen itu mengungkap pengaturan keuangan politisi global dan tokoh masyarakat termasuk teman-teman dari Presiden Rusia Vladimir Putin, kerabat Perdana Menteri Inggris, pemimpin Islandia dan pemimpin Pakistan, hingga Presiden Ukraina.


Sejumlah selebriti dan atlet, seperi Jackie Chan dan Lionel Messi, ikut disebut dalam daftar orang kaya yang diduga keuangannya bermasalah.

Firma hukum, Mossack Fonseca, mengakui telah mendirikan lebih dari 240.000 perusahaan untuk klien di seluruh dunia. Perusahaan ini membantah melakukan kesalahan dan menyebut dirinya korban dari kampanye terhadap privasi.


Prancis melalui kejaksaannya, mulai membuka penyelidikan awal dugaan penggelapan pajak dari orang-orang kaya di negara itu yang menggunakan jasa Mossack Fonseca.

Pemerintah Jerman juga melakukan aksi “menjemput bola” dalam menyelidiki kasus masalah keuangan orang-orang kaya yang bermasalah.
Menurut laporan Reuters, Selasa (5/4/2016), langkah Prancis dan Jerman diikuti oleh Australia, Austria, Swedia dan Belanda.

Sementara itu, pihak Gedung Putih Amerika Serikat (AS) menyatakan, tidak akan mengomentari secara spesifik perihal bocoran data “Panama Papers.”Transparansi yang lebih besar memungkinkan kita untuk mencegah korupsi,” kata pihak Gedung Putih.

Dokumen yang dibocorkan itu mencakup data dari periode tahun 1977 sampai Desember lalu. Data itu bocor lebih dari 100 organisasi berita di seluruh dunia yang bekerja sama dengan Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ), yang berbasis di Washington DC.

Saya pikir kebocoran akan terbukti menjadi pukulan terbesar karena luasnya dokumen,kata direktur ICIJ, Gerard Ryle.
(mas)
Berita Terkait
Donald Trump Ancam Ambil...
Donald Trump Ancam Ambil Alih Terusan Panama, Ini Respons Presiden Panama
Dubes Sukmo Harsono...
Dubes Sukmo Harsono Beberkan Capaian KBRI Panama
Dubes Sukmo Harsono...
Dubes Sukmo Harsono Blusukan Cari Peluang Tingkatkan Kerja Sama RI-Panama
Temui Wamenperindag...
Temui Wamenperindag Panama, Dubes Sukmo Berupaya Tingkatkan Hubungan Perdagangan dan Investasi
Indonesia Sedang Demam...
Indonesia Sedang Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Warga 4 Negara Amerika...
Warga 4 Negara Amerika Antusias Ikut Lomba Menyanyi Lagu Indonesia
Berita Terkini
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
3 jam yang lalu
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
4 jam yang lalu
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
5 jam yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
6 jam yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
7 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
8 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved