Dibayangi Kebangkrutan, ISIS Potong Gaji Militannya

Rabu, 17 Februari 2016 - 13:26 WIB
Dibayangi Kebangkrutan,...
Dibayangi Kebangkrutan, ISIS Potong Gaji Militannya
A A A
BEIRUT - Kelompok ISIS di Raqqa, Suriah, mulai dibayangi kebangkrutan karena pendapatan mereka terus menurun. Kelompok itu telah mamangkas gaji para militan di seluruh wilayah Suriah yang mereka kuasai.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang pernah membual mampu mencetak uang sendiri juga meminta warga Raqqa bertransaksi menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang ditukar di pasar gelap. ISIS juga membebaskan tahanan dengan tebusan USD500 per orang.

Penyebab kelompok itu di ambang kebangkrutan, salah satunya akibat serangan udara bertubi-tubi dari berbagai negara yang membuat sektor keuangan mereka terkikis. Iming-iming bonus dan bulan madu gratis bagi militan baru kini sudah dihentikan oleh ISIS.

Para warga Raqqa yang memilih pindah ke Turki memberikan kesaksian terkait kondisi ISIS yang mengalami kesulitan keuangan. Kelompok yang dipimpin Abu Bakar Al-Baghdadi itu mulai mengandalkan Libya sebagai alternatif pendanaan.

Para warga Raqqa yang tinggal di pengasingan di Turki mengatakan, gaji para militan ISIS telah dipotong separuhnya sejak Desember 2015. Kebutuhan listrik dan kebutuhan pokok lain mulai sulit dijangkau.

Bukan hanya militan. Setiap PNS, dari mulai dari kantor pengadilan hingga sekolah, gajinya dipotong sebesar 50 persen,” kata seorang aktivis Raqqa yang kini tinggal di Kota Gaziantep, Turki. Meski sudah pindah, namun aktivis itu tetap menjalin kontak dengan orang-orang di kota asalnya.

Potong gaji saja tidak cukup, karena ISIS masih harus menutupi anggaran untuk pembelian senjata. Peneliti Forum Timur Tengah, Aymen Jawad Al-Tamimi, yang meneliti sumber-sumber dokumen ISIS juga membenarkan kesulitan keuangan yang dialami kelompok radikal itu.

Aktivis Raqqa lainnya yang diidentifikasi sebagai Abu Ahmad, mengatakan, dalam dua minggu terakhir, kelompok ISIS hanya menerima uang dolar AS untuk pembayaran "pajak", air dan tagihan listrik. ”Semuanya dibayar dalam dolar,” ujarnya, seperti dikutip AP, Rabu (17/2/2016).

Seorang warga Al-Bab, yang meminta hanya dipanggil nama depannya, Oussama, mengatakan puluhan warga di kotanya telah melarikan diri dan mengabaikan perintah kelompok ISIS. ”Anda dapat merasakan frustrasi, semangat mereka turun,” ujar Oussama.

Di Irak, ISIS juga mengalami kesulitan serupa. Para pejabat Pemerintah Irak memperkirakan bahwa ISIS memungut “pajak” gaji anggotanya yang berkisar antara 20 sampai 50 persen. Analis dan Pemerintah Irak memperkirakan kerugian minimal USD10 juta setiap bulan dialami ISIS. Kerugian itu akibat gedung-gedung kas keuangan ISIS dibom koalisi AS.
(mas)
Berita Terkait
Rusia Pulangkan 145...
Rusia Pulangkan 145 Anak Militan ISIS dari Suriah dan Irak
Profil Abu al-Hassan...
Profil Abu al-Hassan al-Hashemi al-Quraishi, Pemimpin ISIS yang Meledakkan Dirinya Saat Dikepung
Denmark Tarik Pasukan...
Denmark Tarik Pasukan dari Suriah dan Irak, Ini Tujuannya
3 Negara Tetangga Indonesia...
3 Negara Tetangga Indonesia Penghasil Militan ISIS Terbanyak
Daftar Negara Asia Tengah...
Daftar Negara Asia Tengah dengan Jumlah Militan ISIS Terbanyak
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan...
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan dari Suriah ke Irak
Berita Terkini
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
20 menit yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
1 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
2 jam yang lalu
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
2 jam yang lalu
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
3 jam yang lalu
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
4 jam yang lalu
Infografis
Berapa Gaji Guru PPPK...
Berapa Gaji Guru PPPK dan PNS 2025? Ini Rinciannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved