Rusia Desak PBB Selidiki Info Bahan Senjata Kimia ISIS dari Turki
Sabtu, 26 Desember 2015 - 12:37 WIB
Rusia Desak PBB Selidiki Info Bahan Senjata Kimia ISIS dari Turki
A
A
A
MOSKOW - Pemerintah Rusia mendesak PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) agar menyelidiki informasi dugaan bahan senjata kimia kelompok ISIS yang berasal dari Turki. Desakan Rusia itu menyusul bocoran informasi dari anggota Parlemen Ankara tentang bahan gas sarin ISIS dari wilayah Turki.
Anggota Parlemen Turki, Eren Erdem, yang membocorkan informasi itu telah dinyatakan sebagai pengkhianat oleh Presiden Tayyip Erdogan.
PBB bersama OPCW telah berkonsolidasi Mekanisme Investigasi Gabungan (JIM) yang membawa mandate untuk mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam penggunaan senjata kimia di Suriah di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB 2118.
”Mekanisme khusus ini harus benar-benar menyelidiki informasi yang diberikan oleh anggota parlemen Turki sesuai dengan mandatnya, dan melaporkan kembali ke Dewan Keamanan PBB,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (26/12/2015).
Eren Erdem yang merupakan politisi oposisi Partai Republik Rakyat (CHP) yang dianggap sebagai pengkhianat oleh Presiden Erdogan pernah mengungkap bahwa kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah menerima semua bahan yang diperlukan untuk memproduksi gas sarin melalui wilayah Turki.
Erdem heran bahwa kasus pidana di wilayah Adana soal pengiriman bahan senjata kimia ilegal itu telah ditutup-tutupi Pemerintah Turki. Erdem juga berpendapat bahwa Barat sengaja menyalahkan Pemerintah Bashar Assad untuk serangan senjata kimia pada Agustus 2013 di Ghouta yang digunakan sebagai bagian dari dalih untuk melegalkan kemungkinan intervensi militer AS di Suriah.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan sejatinya tidak ada yang mencolok dari informasi yang diberikan Erdem. Zakharova ingat pada 2013, sejumlah sumber, termasuk dari orang Turki, melaporkan penangkapan tersangka yang terlibat dalam pengiriman komponen senjata kimia, termasuk prekursor sarin di perbatasan Turki.
“Kemudian kasus ini, seperti yang kita mengerti, bahwa tersangka utama telah terhindar dari penuntutan dan melarikan diri ke Suriah 'mengayuh secara halus’,” kata Zakharova. ”Jadi bocoran Erdem datang untuk kita, dan bukan sebagai sesuatu yang baru.”
Anggota Parlemen Turki, Eren Erdem, yang membocorkan informasi itu telah dinyatakan sebagai pengkhianat oleh Presiden Tayyip Erdogan.
PBB bersama OPCW telah berkonsolidasi Mekanisme Investigasi Gabungan (JIM) yang membawa mandate untuk mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam penggunaan senjata kimia di Suriah di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB 2118.
”Mekanisme khusus ini harus benar-benar menyelidiki informasi yang diberikan oleh anggota parlemen Turki sesuai dengan mandatnya, dan melaporkan kembali ke Dewan Keamanan PBB,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (26/12/2015).
Eren Erdem yang merupakan politisi oposisi Partai Republik Rakyat (CHP) yang dianggap sebagai pengkhianat oleh Presiden Erdogan pernah mengungkap bahwa kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah menerima semua bahan yang diperlukan untuk memproduksi gas sarin melalui wilayah Turki.
Erdem heran bahwa kasus pidana di wilayah Adana soal pengiriman bahan senjata kimia ilegal itu telah ditutup-tutupi Pemerintah Turki. Erdem juga berpendapat bahwa Barat sengaja menyalahkan Pemerintah Bashar Assad untuk serangan senjata kimia pada Agustus 2013 di Ghouta yang digunakan sebagai bagian dari dalih untuk melegalkan kemungkinan intervensi militer AS di Suriah.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan sejatinya tidak ada yang mencolok dari informasi yang diberikan Erdem. Zakharova ingat pada 2013, sejumlah sumber, termasuk dari orang Turki, melaporkan penangkapan tersangka yang terlibat dalam pengiriman komponen senjata kimia, termasuk prekursor sarin di perbatasan Turki.
“Kemudian kasus ini, seperti yang kita mengerti, bahwa tersangka utama telah terhindar dari penuntutan dan melarikan diri ke Suriah 'mengayuh secara halus’,” kata Zakharova. ”Jadi bocoran Erdem datang untuk kita, dan bukan sebagai sesuatu yang baru.”
(mas)