Obama: Sulit Kalahkan ISIS Jika Suriah Masih Bergolak
Kamis, 19 November 2015 - 17:43 WIB
Obama: Sulit Kalahkan ISIS Jika Suriah Masih Bergolak
A
A
A
MANILA - Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama mengaku akan memberikan waktu kepada Rusia, Iran, dan elit penguasa untuk menerima solusi penyelesaian konflik Suriah dengan melengserkan Presiden Bashar al-Assad dari kursi Presiden.
Pasalnya, perang sipil di Suriah tidak akan berakhir atau penyelesaian politik akan berjalan, jika Presiden Assad masih berkuasa.
Obama mengatakan, Rusia dan Iran mengakui jika ISIS adalah sebuah ancaman serius. Namun, upaya Rusia di Suriah justru menunjukkan untuk menopang Assad agar tetap berkuasa di negara itu.
"Intinya adalah, saya tidak melihat kita bisa mengakhiri perang sipil di Suriah, sementara Assad tetap berkuasa," katanya kepada wartawan di Manila, di sela-sela pertemuan puncak tahunan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (19/11/2015).
"Apa yang kami lakukan dengan anggota koalisi kami adalah mungkin diperlukan beberapa bulan untuk Rusia, Iran, dan beberapa anggota serta elit pemerintah Suriah yang berkuasa untuk mendapatkan kebenaran yang hanya saya artikulasikan," tambahnya.
Seperti diketahui pada akhir September lalu, Rusia telah memulai serangan udara di Suriah. Kremlin menegaskan jika serangan udara yang dilakukan menyasar pada sejumlah target milik ISIS. Namun, diketahui jika sejumlah serangan yang dilakukan oleh angkatan udara Rusia mengenai wilayah yang dikuasai oleh kelompok penentang Assad.
Pasalnya, perang sipil di Suriah tidak akan berakhir atau penyelesaian politik akan berjalan, jika Presiden Assad masih berkuasa.
Obama mengatakan, Rusia dan Iran mengakui jika ISIS adalah sebuah ancaman serius. Namun, upaya Rusia di Suriah justru menunjukkan untuk menopang Assad agar tetap berkuasa di negara itu.
"Intinya adalah, saya tidak melihat kita bisa mengakhiri perang sipil di Suriah, sementara Assad tetap berkuasa," katanya kepada wartawan di Manila, di sela-sela pertemuan puncak tahunan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (19/11/2015).
"Apa yang kami lakukan dengan anggota koalisi kami adalah mungkin diperlukan beberapa bulan untuk Rusia, Iran, dan beberapa anggota serta elit pemerintah Suriah yang berkuasa untuk mendapatkan kebenaran yang hanya saya artikulasikan," tambahnya.
Seperti diketahui pada akhir September lalu, Rusia telah memulai serangan udara di Suriah. Kremlin menegaskan jika serangan udara yang dilakukan menyasar pada sejumlah target milik ISIS. Namun, diketahui jika sejumlah serangan yang dilakukan oleh angkatan udara Rusia mengenai wilayah yang dikuasai oleh kelompok penentang Assad.
(ian)