AS Siap Lindungi Korsel dari Ancaman Korut
Sabtu, 17 Oktober 2015 - 20:40 WIB
AS Siap Lindungi Korsel dari Ancaman Korut
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama kembali menegaskan dukungan Paman Sam terhadap Korea Selatan (Korsel). Ia juga menegaskan, komitmen AS terhadap keamanan Korsel tidak akan pernah goyah dalam menghadapi ancaman senjata nuklir Korea Utara (Korut).
"Program nuklir dan rudal Pyongyang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali hanya akan memperdalam isolasi terhadap Korut," kata Obama dalam konferensi Pers setelah bertemu dengan Presiden Korsel, Park Geun-hye, seperti dikutip dari laman USA Today, Sabtu (17/10/2015).
Dalam pertemuan itu, Geun-hye mengatakan, aksi provokasi Korut adalah ancaman terbesar di kawasan itu. Ia juga mengatakan, aliansi AS-Korsel telah lebih kuat dari pada sebelumnya.
Pertemuan antara Obama dan Geun-hye terjadi di tengah ketegangan di Semenanjung Korea, setelah Korut dilaporkan melakukan perbaikan terhadap instalasi nuklirnya. Ada laporan yang mengatakan, Korut mungkin merencanakan peluncuran roket ataupun bom nuklir.
Korsel sendiri amat bergantung pada AS untuk melawan ancaman pontensial dari tetangganya yang mempunyai senjata nuklir itu. AS masih menempatkan 28.500 tentaranya di Korsel, lebih dari 60 tahun setelah berakhirnya perang Korea.
"Program nuklir dan rudal Pyongyang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali hanya akan memperdalam isolasi terhadap Korut," kata Obama dalam konferensi Pers setelah bertemu dengan Presiden Korsel, Park Geun-hye, seperti dikutip dari laman USA Today, Sabtu (17/10/2015).
Dalam pertemuan itu, Geun-hye mengatakan, aksi provokasi Korut adalah ancaman terbesar di kawasan itu. Ia juga mengatakan, aliansi AS-Korsel telah lebih kuat dari pada sebelumnya.
Pertemuan antara Obama dan Geun-hye terjadi di tengah ketegangan di Semenanjung Korea, setelah Korut dilaporkan melakukan perbaikan terhadap instalasi nuklirnya. Ada laporan yang mengatakan, Korut mungkin merencanakan peluncuran roket ataupun bom nuklir.
Korsel sendiri amat bergantung pada AS untuk melawan ancaman pontensial dari tetangganya yang mempunyai senjata nuklir itu. AS masih menempatkan 28.500 tentaranya di Korsel, lebih dari 60 tahun setelah berakhirnya perang Korea.
(ian)