250 Warga AS Bergabung dengan ISIS
Rabu, 30 September 2015 - 20:38 WIB
250 Warga AS Bergabung dengan ISIS
A
A
A
WASHINGTON - Sebuah organisasi pemantau yang berbasis di Amerika Serikat (AS) menyatakan, ratusan warga negara Paman Sam telah bergabung dengan ISIS. Laporan ini muncul di tengah upaya pemerintah Presiden Barack Obama memerangi kelompok ISIS dan menekan pertumbuhan anggotanya.
Menurut laporan organisasi The House Security Committee, lebih dari 250 warga AS telah melakukan perjalanan ke luar negeri untuk bergabung dengan kelompok teroris. Angka ini menunjukan peningkatan yang menimbulkan ancaman serius bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
"Dari ratusan warga Amerika yang telah berusaha untuk melakukan perjalanan ke zona konflik di Suriah dan Irak, pemerintah hanya bisa mencegah sebagian kecil dari mereka. Beberapa dari mereka bahkan telah berhasil kembali ke Amerika," bunyi laporan tersebut seperti dilansir dari NY Daily News, Rabu (30/9/2015).
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa para penyidik AS kalah bersaing dengan kelompok teror untuk mencegah mereka merekrut anggota baru di media sosial. "Belum pernah terjadi sebelumnya dimana orang Amerika begitu cepat berubah menjadi radikal karena pengaruh seorang ekstrimis di tengah usaha para penegak hukum federal memantau dan mencegah aksi para tersangka," bunyi laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa dari identitas orang-orang yang berhasil direkut oleh ISIS tidak diketahui karena kesenjangan komunikasi. Hal ini disebabkan tidak adanya database global yang komprehensif dari anggota ISIS.
"Sebaliknya, negara-negara termasuk AS mengandalkan sistem tambal sulam untuk bertukar identitas para ekstrimis. Hal ini meningkatkan kemungkinan lolosnya identitas seorang ekstimis dari pengawasan," demikian laporan itu.
Sebelumnya, Pemerintah AS telah meluncurkan program yang bertujuan untuk mencegah bergabungnya warga AS dengan ISIS dan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada setiap individu dan organisasi yang diduga menjadi anggota ataupun simpatisan dari kelompok ekstrimis tersebut.
Menurut laporan organisasi The House Security Committee, lebih dari 250 warga AS telah melakukan perjalanan ke luar negeri untuk bergabung dengan kelompok teroris. Angka ini menunjukan peningkatan yang menimbulkan ancaman serius bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
"Dari ratusan warga Amerika yang telah berusaha untuk melakukan perjalanan ke zona konflik di Suriah dan Irak, pemerintah hanya bisa mencegah sebagian kecil dari mereka. Beberapa dari mereka bahkan telah berhasil kembali ke Amerika," bunyi laporan tersebut seperti dilansir dari NY Daily News, Rabu (30/9/2015).
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa para penyidik AS kalah bersaing dengan kelompok teror untuk mencegah mereka merekrut anggota baru di media sosial. "Belum pernah terjadi sebelumnya dimana orang Amerika begitu cepat berubah menjadi radikal karena pengaruh seorang ekstrimis di tengah usaha para penegak hukum federal memantau dan mencegah aksi para tersangka," bunyi laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa dari identitas orang-orang yang berhasil direkut oleh ISIS tidak diketahui karena kesenjangan komunikasi. Hal ini disebabkan tidak adanya database global yang komprehensif dari anggota ISIS.
"Sebaliknya, negara-negara termasuk AS mengandalkan sistem tambal sulam untuk bertukar identitas para ekstrimis. Hal ini meningkatkan kemungkinan lolosnya identitas seorang ekstimis dari pengawasan," demikian laporan itu.
Sebelumnya, Pemerintah AS telah meluncurkan program yang bertujuan untuk mencegah bergabungnya warga AS dengan ISIS dan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada setiap individu dan organisasi yang diduga menjadi anggota ataupun simpatisan dari kelompok ekstrimis tersebut.
(esn)