Takut Memberontak, ISIS Larang Warga Mosul Gelar Pertemuan
Selasa, 29 September 2015 - 22:33 WIB
Takut Memberontak, ISIS Larang Warga Mosul Gelar Pertemuan
A
A
A
BAGHDAD - ISIS melarang warga Irak yang tinggal di kota Mosul untuk menggelar pertemuan lebih dari tiga orang. ISIS mengeluarkan larangan ini karena takut akan terjadi pemberontakan massa.
"ISIS di Mosul melarang pertemuan warga di tempat-tempat umum, serta melarang mereka berbicara tentang kehidupan. Keputusan ini datang untuk mengantisipasi pecahnya pemberontakan massa," ujar juru bicara Partai Demokrat Kurdistan seperti dikutip dari laman IB Times, Selasa (29/9/2015).
"Mereka mencoba praktek-praktek ini untuk menyebarkan perpecahan dan ketakutan di kalangan warga, agar dapat mengendalikan situasi," tambahnya.
ISIS menguasai Mosul setelah kelompok itu menyerbunya pada bulan Juni 2014. Beberapa hari kemudian, pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan berdirinya khalifah Negara Islam pada tanggal 29 Juni. Mereka pun bertindak sangat represif kepada penduduk setempat dan telah mengeksekusi ratusan orang yang tidak mematuhi peraturan mereka.
Awal bulan ini, seorang anggota parlemen Irak mengatakan, dalam sehari rata-rata 50 orang telah dieksekusi oleh ISIS. Eksekusi dilakukan dengan cara pemenggalan, rajam, penyaliban, atau bahkan melempar korban dari menara yang tinggi.
"ISIS di Mosul melarang pertemuan warga di tempat-tempat umum, serta melarang mereka berbicara tentang kehidupan. Keputusan ini datang untuk mengantisipasi pecahnya pemberontakan massa," ujar juru bicara Partai Demokrat Kurdistan seperti dikutip dari laman IB Times, Selasa (29/9/2015).
"Mereka mencoba praktek-praktek ini untuk menyebarkan perpecahan dan ketakutan di kalangan warga, agar dapat mengendalikan situasi," tambahnya.
ISIS menguasai Mosul setelah kelompok itu menyerbunya pada bulan Juni 2014. Beberapa hari kemudian, pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan berdirinya khalifah Negara Islam pada tanggal 29 Juni. Mereka pun bertindak sangat represif kepada penduduk setempat dan telah mengeksekusi ratusan orang yang tidak mematuhi peraturan mereka.
Awal bulan ini, seorang anggota parlemen Irak mengatakan, dalam sehari rata-rata 50 orang telah dieksekusi oleh ISIS. Eksekusi dilakukan dengan cara pemenggalan, rajam, penyaliban, atau bahkan melempar korban dari menara yang tinggi.
(esn)