Rusia Mengaku Tak Ada Rencana Sebar Pasukan Tempur di Suriah
Selasa, 29 September 2015 - 18:12 WIB
Rusia Mengaku Tak Ada Rencana Sebar Pasukan Tempur di Suriah
A
A
A
NEW YORK - Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, Moskow saat ini tidak memiliki rencana untuk menggelar pasukan tempur di Suriah. Pernyataan ini untuk meredam kekhawatiran Amerika Serikat tentang bantuan militer Rusia terhadap rezim Bashar al-Assad.
Putin menegaskan, kehadiran militer Rusia di Suriah adalah untuk mendukung pemerintahan Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad dari ancaman teroris. "Rusia tidak akan ambil bagian dalam operasi lapangan di Suriah atau di negara-negara lain. Saat ini kami tidak memiliki rencana untuk melakukannya," tegas Putin seperti dikutip dari Xinhua, Selasa (29/9/2015).
"Kami hanya berpikir tentang bagaimana kita dapat mengintensifkan kerja sama kami, baik dengan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, dan mitra kami di negara-negara lain," tambahnya.
Seperti diketahui, Rusia diketahui telah memberikan bantuan militer kepada Suriah. Bantuan militer itu membuat koalisi negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat khawatir akan membuka konfrontasi terbuka diantara keduanya.
Selain itu, Rusia dan AS memiliki perbedaan yang tajam terkait penyelesaian konflik di Suriah. Gedung Putih menganggap Presiden Bashar al-Assad adalah bagian dari masalah di Suriah sehingga harus dilengserkan. Sedangkan Kremlin beranggapan Assad adalah bagian dari solusi untuk meredam konflik bersenjata di Suriah dan dalam memerangi ISIS.
Putin menegaskan, kehadiran militer Rusia di Suriah adalah untuk mendukung pemerintahan Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad dari ancaman teroris. "Rusia tidak akan ambil bagian dalam operasi lapangan di Suriah atau di negara-negara lain. Saat ini kami tidak memiliki rencana untuk melakukannya," tegas Putin seperti dikutip dari Xinhua, Selasa (29/9/2015).
"Kami hanya berpikir tentang bagaimana kita dapat mengintensifkan kerja sama kami, baik dengan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, dan mitra kami di negara-negara lain," tambahnya.
Seperti diketahui, Rusia diketahui telah memberikan bantuan militer kepada Suriah. Bantuan militer itu membuat koalisi negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat khawatir akan membuka konfrontasi terbuka diantara keduanya.
Selain itu, Rusia dan AS memiliki perbedaan yang tajam terkait penyelesaian konflik di Suriah. Gedung Putih menganggap Presiden Bashar al-Assad adalah bagian dari masalah di Suriah sehingga harus dilengserkan. Sedangkan Kremlin beranggapan Assad adalah bagian dari solusi untuk meredam konflik bersenjata di Suriah dan dalam memerangi ISIS.
(esn)