Perang Setahun Berlalu, Derita Gaza Belum Berakhir
Rabu, 08 Juli 2015 - 17:18 WIB
Perang Setahun Berlalu, Derita Gaza Belum Berakhir
A
A
A
GAZA - Ali Wahdan, seorang guru matematika asal Gaza, Palestina, kehilangan istrinya, 11 anggota keluarga dan kakinya akibat pemboman Israel.
Pemboman itu diluncurkan dari Kota Beit Hanoun, diutara Jalur Gaza, saat perang Hamas dan Israel pecah setahun lalu.
Hampir 12 bulan kemudian dokter mengamputasi kakinya yang lain. Bagi Ali, derita rakyat Gaza belum berakhir meski perang sudah setahun berlalu. Hampir semua yang dimiliki Ali hancur oleh bom-bom Israel.
”Perang berakhir, tapi tragedi saya tidak,” kesal Ali. Guru berusia 36 tahun itu kini mengandalkan kursi roda bermotor untuk membantunya bergerak.
”Saya menghabiskan waktu sejak tahun lalu pergi dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain,” katanya, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/7/2015). ”Setahun lalu saya adalah seorang guru yang berdiri di depan murid-murid saya. Hari ini saya tak berdaya untuk melayani bahkan untuk anak-anak saya.”
Meski perang selama 51 hari itu berakhir dengan gencatan senjata, tapi serangan sesekali masih terjadi. Ali tidak bisa berbuat banyak, kecuali meratapi kehancuran dari setiap apa yang dia miliki.
Di Gaza, dampak dari konflik telah terjadi di mana-mana. Lebih dari 12 ribu rumah hancur dan 100 ribu lainnya rusak. Sejauh ini nyaris tak ada pembangunan di wilayah Palestina itu.
Ribuan rakyat Gaza kehilangan tempat tinggal. Duapertiga dari 1,8 juta penduduk Gaza merupakan penerima bantuan PBB. Lembaga nirlaba Save the Children, sebelumnya juga merilis derita anak-anak Gaza yang ketakutan dan trauma, meski perang sudah setahun berlalu.
Ali dan anggota keluarganya yang tersisa hanya berlindung di rumah yang dibangun dari kayu, terpal plastik biru dan logam panel. Kondisi jauh berbeda dengan bangunan Israel di wilayah Palestina yang diduduki, di mana banyak gedung berlantai empat berdiri dengan fasilitas mewah.
Pemboman itu diluncurkan dari Kota Beit Hanoun, diutara Jalur Gaza, saat perang Hamas dan Israel pecah setahun lalu.
Hampir 12 bulan kemudian dokter mengamputasi kakinya yang lain. Bagi Ali, derita rakyat Gaza belum berakhir meski perang sudah setahun berlalu. Hampir semua yang dimiliki Ali hancur oleh bom-bom Israel.
”Perang berakhir, tapi tragedi saya tidak,” kesal Ali. Guru berusia 36 tahun itu kini mengandalkan kursi roda bermotor untuk membantunya bergerak.
”Saya menghabiskan waktu sejak tahun lalu pergi dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain,” katanya, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/7/2015). ”Setahun lalu saya adalah seorang guru yang berdiri di depan murid-murid saya. Hari ini saya tak berdaya untuk melayani bahkan untuk anak-anak saya.”
Meski perang selama 51 hari itu berakhir dengan gencatan senjata, tapi serangan sesekali masih terjadi. Ali tidak bisa berbuat banyak, kecuali meratapi kehancuran dari setiap apa yang dia miliki.
Di Gaza, dampak dari konflik telah terjadi di mana-mana. Lebih dari 12 ribu rumah hancur dan 100 ribu lainnya rusak. Sejauh ini nyaris tak ada pembangunan di wilayah Palestina itu.
Ribuan rakyat Gaza kehilangan tempat tinggal. Duapertiga dari 1,8 juta penduduk Gaza merupakan penerima bantuan PBB. Lembaga nirlaba Save the Children, sebelumnya juga merilis derita anak-anak Gaza yang ketakutan dan trauma, meski perang sudah setahun berlalu.
Ali dan anggota keluarganya yang tersisa hanya berlindung di rumah yang dibangun dari kayu, terpal plastik biru dan logam panel. Kondisi jauh berbeda dengan bangunan Israel di wilayah Palestina yang diduduki, di mana banyak gedung berlantai empat berdiri dengan fasilitas mewah.
(mas)