Rusia Dikhianati Sekutunya yang Diam-diam Bantu Ukraina sejak Perang Pecah

Kamis, 19 Januari 2023 - 10:56 WIB
loading...
Rusia Dikhianati Sekutunya...
Rusia dikhianati sekutunya selama Perang Dingin, Bulgaria, yang diam-diam membantu Ukraina sejak awal perang. Foto/REUTERS
A A A
KIEV - Bulgaria, negara sekutu Rusia selama Perang Dingin, telah mengkhianati Moskow dengan diam-diam membantu Ukraina sejak perang pecah Februari tahun lalu.

Negara Balkan, yang secara geografis dipisahkan dari Ukraina oleh Rumania, merupakan negara anggota Uni Eropa dan NATO, tetapi juga secara historis mempertahankan hubungan yang lebih dekat dengan Moskow daripada banyak negara tetangga lainnya.

Namun pemerintah yang berbasis di Sofia pada musim semi 2022 menjadi salah satu pengekspor solar terbesar ke Ukraina dan terkadang memenuhi 40 persen kebutuhan Ukraina. Demikian diungkap mantan menteri keuangan Bulgaria Assen Vassilev kepada surat kabar Jerman, Die Welt.

"Kami memperkirakan sekitar sepertiga dari amunisi yang dibutuhkan oleh tentara Ukraina pada fase awal perang berasal dari Bulgaria," imbuh mantan perdana menteri Bulgaria Kiril Petkov kepada publikasi tersebut.

Baca juga: Perang Ukraina Memanas, Rusia Kerahkan Rudal Antarbenua RS-24 Yars untuk Patroli Tempur

Klaim itu dikuatkan oleh Kiev, di mana Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menceritakan bagaimana angkatan bersenjata Ukraina berjuang untuk mempertahankan pasokan amunisi pada musim semi.

"Kami tahu bahwa gudang Bulgaria memiliki amunisi dalam jumlah besar yang dibutuhkan sehingga Presiden [Volodymyr] Zelensky mengirim saya untuk mendapatkan bahan yang diperlukan," kata Kuleba.

Kuleba mengatakan langkah itu menunjukkan integritas Petkov. "[Saya]akan selalu berterima kasih kepadanya karena menggunakan semua keterampilan politiknya untuk menemukan solusi atas kekurangan bahan bakar dan amunisi," ujarnya.

Dia berkomentar bahwa dia yakin pemerintah saat itu di Sofia memutuskan untuk berada di "sisi kanan sejarah"."Dan membantu kami mempertahankan diri dari musuh yang jauh lebih kuat," kata Kuleba, yang dilansir Kamis (19/1/2023).

Diplomat top Kiev itu kemudian mengatakan Petkov telah berjanji untuk melakukan segala daya guna membantu Kiev, meskipun mantan pemimpin Bulgaria itu mengakui bahwa itu tidak mudah untuk dicapai.

Pengiriman pasokan, kata Petkov, sebagian besar dilakukan melalui perantara yang disahkan oleh pemerintah. Pengakuan itu juga digemakan oleh Kuleba.

Hanya beberapa hari setelah invasi Rusia dimulai pada 24 Februari 2022, Petkov memecat menteri pertahanan Stefan Yanev setelah dia memilih untuk menggunakan narasi Moskow tentang "operasi militer khusus", daripada narasi "perang".

"Menteri pertahanan saya tidak dapat menggunakan kata operasi daripada kata perang. Anda tidak dapat menyebutnya operasi ketika ribuan tentara dari satu pihak dan pihak lain telah terbunuh," kata mantan perdana menteri itu dalam pernyataan yang disiarkan televisi, seperti dikutip Reuters.

"Kepentingan Bulgaria bukanlah menundukkan kepala. Ketika kami melihat sesuatu yang tidak kami setujui, sesuatu yang begitu jelas, kami tidak bisa diam."

Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada April 2022 menunjukkan penurunan tajam dalam dukungan untuk Presiden Rusia Vladimir Putin di negara bagian Balkan yang kecil, melihat popularitasnya berkurang setengahnya dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan tahun sebelumnya.

Pada bulan Mei, Parlemen Bulgaria memberikan suara untuk menyetujui pengiriman dukungan teknis kepada angkatan bersenjata Ukraina tetapi berhenti mengirim bantuan militer langsung ke Kiev.

Bulan berikutnya, Petkov mengatakan Sofia telah berbuat cukup untuk mendukung upaya perang Ukraina.

"Kami telah mendukung para pengungsi yang masuk, kami telah mengirim semua jenis bantuan kemanusiaan, kami juga terlibat dalam perbaikan senjata berat Ukraina dan kami sejalan dengan semua sanksi terhadap Rusia," katanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Misteri Freya, Model...
Misteri Freya, Model Erotis Ukraina yang Diduga Ledakkan Pipa Nord Stream Rusia
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Trump Sebut Kesepakatan...
Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Ditandatangani pada Minggu, Ini Respons Teheran
Masuki Tahun Baru 1448...
Masuki Tahun Baru 1448 H, Arab Saudi Ganti Kain Kiswah Kakbah
Rekomendasi
Soal Insiden di UGM,...
Soal Insiden di UGM, Wamentan: Kita Demokratis, Siap Diskusi dengan Siapapun
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Syarat Ruben Onsu Bisa Rebut Hak Asuh Anak dari Sarwendah
Gempa Besar M6,7 Guncang...
Gempa Besar M6,7 Guncang Palu, BMKG: Akibat Aktivitas Sesar Aktif
Berita Terkini
Momen Terakhir Wanita...
Momen Terakhir Wanita Tewas dalam Bungee Jumping 39 Meter: 'Bernapas Terengah-engah'
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved