Erdogan Jadikan Hagia Sophia Masjid demi Popularitas Dinilai Tak Akan Berhasil
Senin, 13 Juli 2020 - 16:19 WIB
loading...
A
A
A
Amerika Serikat juga mengkritik keputusan tersebut. "Kami kecewa dengan keputusan pemerintah Turki untuk mengubah status Hagia Sophia," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus. (Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid )
Dia mengatakan AS berharap untuk memastikan monumen itu tetap dapat diakses tanpa hambatan untuk semua pihak.
Sedangkan calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden juga mengatakan pada hari Jumat bahwa dia sangat menyesalkan keputusan Turki. Biden meminta Erdogan untuk membatalkan keputusan tersebut.
Sementara itu, surat kabar Neue Presse menyatakan jika Presiden Erdogan menggunakan perubahan status Hagia Sophia menjadi alat politik, hal ini dinilai tidak akan efektif menarik pemilih. Meskipun konversi Hagia Sophia menjadi masjid di Istanbul membuat pemilih Islamis dan nasionalisnya bahagia, namun popularitas Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan Erdogan akan terus tergerus dengan isu-isu penting yang kini tengah dihadapi Turki.
Beberapa isu penting yang menarik pemilih muda adalah soal ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja. Juga penanganan pandemi virus corona baru (Covid-19) serta langkah pemerintah yang membungkam suara kritis di dalam negeri.
"Sekarang dia bisa merayakan di depan para pendukungnya, tetapi dia tidak akan bisa lepas dari fakta dalam jangka panjang; Presiden tidak bisa lagi menarik dukungan masyarakat secara politik,” tulis media tersebut.
Kebijakan konversi Hagia Sophia, lanjut media tersebut, akan memperburuk hubungan Turki dengan UNESCO, konflik dengan Yunani dan memperkuat kecurigaan dengan dunia Barat. Di atas segalanya, transformasi Hagia Sophia menunjukkan bahwa Erdogan tidak lagi memiliki ide yang lebih baik.
Dia mengatakan AS berharap untuk memastikan monumen itu tetap dapat diakses tanpa hambatan untuk semua pihak.
Sedangkan calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden juga mengatakan pada hari Jumat bahwa dia sangat menyesalkan keputusan Turki. Biden meminta Erdogan untuk membatalkan keputusan tersebut.
Sementara itu, surat kabar Neue Presse menyatakan jika Presiden Erdogan menggunakan perubahan status Hagia Sophia menjadi alat politik, hal ini dinilai tidak akan efektif menarik pemilih. Meskipun konversi Hagia Sophia menjadi masjid di Istanbul membuat pemilih Islamis dan nasionalisnya bahagia, namun popularitas Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan Erdogan akan terus tergerus dengan isu-isu penting yang kini tengah dihadapi Turki.
Beberapa isu penting yang menarik pemilih muda adalah soal ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja. Juga penanganan pandemi virus corona baru (Covid-19) serta langkah pemerintah yang membungkam suara kritis di dalam negeri.
"Sekarang dia bisa merayakan di depan para pendukungnya, tetapi dia tidak akan bisa lepas dari fakta dalam jangka panjang; Presiden tidak bisa lagi menarik dukungan masyarakat secara politik,” tulis media tersebut.
Kebijakan konversi Hagia Sophia, lanjut media tersebut, akan memperburuk hubungan Turki dengan UNESCO, konflik dengan Yunani dan memperkuat kecurigaan dengan dunia Barat. Di atas segalanya, transformasi Hagia Sophia menunjukkan bahwa Erdogan tidak lagi memiliki ide yang lebih baik.
(min)
Lihat Juga :