Pemenang Nobel Perdamaian: Solusi Akhiri Perang Ukraina Adalah Cara Militer!

Senin, 05 Desember 2022 - 10:31 WIB
loading...
Pemenang Nobel Perdamaian:...
Irina Scherbakova, aktivis HAM Rusia pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, sebut solusi akhiri perang di Ukraina adalah dengan cara militer. Foto/REUTERS
A A A
BERLIN - Tidak ada solusi diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina dan solusi yang tersedia sekarang hanya dengan cara militer.

Hal itu disampaikan Irina Scherbakova, salah satu pendiri organisasi hak asasi manusia (HAM) Memorial di Rusia . Dia juga merupakan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

“Saya sangat yakin bahwa tidak ada solusi diplomatik dengan rezim [Presiden Vladimir] Putin," kata Scherbakova hari Minggu di Hamburg, Jerman.

Komentarnya datang saat dia diberikan penghargaan lain untuk pekerjaannya selama bertahun-tahun yang membuat katalog kejahatan era Stalin dan berkampanye tentang masalah HAM di negara asalnya.

Baca juga: AS Sebut Vladimir Putin Bawa Perang Ukraina ke Level Barbar Baru

Kanselir Jerman Olaf Scholz menyerahkan Marion Doenhoff Prize kepada Scherbakova, memujinya sebagai sekutu dalam perjuangan untuk masa depan Eropa yang damai, bebas, dan demokratis.

Pujian untuk Scherbakova datang setelah invasi Rusia ke Ukraina semakin berlarut-larut.

"Kurangnya harapan untuk solusi diplomatik adalah pesan tragis," kata Scherbakova.

“Solusi (untuk konflik) yang sekarang akan ada adalah solusi militer,” katanya lagi, seperti dikutip AFP, Senin (5/12/2022).

Dia berspekulasi bahwa diplomasi pada akhirnya memang akan berperan dalam menyelesaikan konflik. “Tapi keputusan ini, diplomasi ini hanya akan terjadi ketika Ukraina yakin telah memenangkan perang ini dan dapat menetapkan persyaratannya,” katanya.

Seruan tergesa-gesa untuk perdamaian, kata dia, adalah "kekanak-kanakan". Dia segala sesuatunya tidak akan kembali seperti semula sebelum pecahnya konflik.

“Perang ini telah membalikkan banyak hal, tidak akan pernah seperti itu lagi,” katanya.

Sekarang berbasis di Jerman, Scherbakova mengatakan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan saat ini dalam keadaan yang sangat sulit untuk mendokumentasikan kejahatan yang dilakukan selama perang Rusia di Ukraina saat ini.

Sementara beberapa rekannya dari Memorial juga melarikan diri ke luar negeri, dia mengatakan banyak yang terus bekerja di bawah "banyak tekanan" di Rusia.

“Tugasnya sekarang adalah menunjukkan kepada orang-orang bahwa ada [orang] Rusia yang lain, yang tidak diam,” katanya.

Organisasi yang didirikan Scherbakova, Memorial, akan diberikan Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo pada Sabtu 10 Desember.

Kelompok itu dianugerahi hadiah bersama dengan sesama juru kampanye Pusat Kebebasan Sipil di Ukraina dan aktivis Belarusia, Ales Bialiatski.

Sebagai salah satu organisasi kebebasan sipil Rusia terkemuka, Memorial telah bekerja selama beberapa dekade untuk menyoroti teror dari era diktator Soviet Joseph Stalin, sekaligus mengumpulkan informasi tentang penindasan politik yang sedang berlangsung di Rusia.

Grup yang didirikan pada 1989 itu ditutup paksa oleh pengadilan Rusia pada akhir 2021 dan Scherbakova meninggalkan Moskow setelah invasi ke Ukraina.

"Upaya Scherbakova menunjukkan jalan menuju masa depan yang lebih baik untuk Rusia", kata Scholz. "Bahkan jika prospeknya tampaknya masih tidak mungkin."

Menurut Scholz, perang tidak akan berakhir dengan kemenangan untuk ekspansionisme Rusia Raya.

Menurutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin telah gagal secara dramatis dalam tujuan perangnya.

"Namun, Rusia akan masih ada setelah konflik berakhir," katanya.

“Itulah mengapa sangat penting bahwa dalam periode ini kami mendukung orang-orang Rusia yang berdiri untuk Rusia yang berbeda, lebih baik, dan lebih cerah,” katanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Misteri Freya, Model...
Misteri Freya, Model Erotis Ukraina yang Diduga Ledakkan Pipa Nord Stream Rusia
Berpengalaman di Perang...
Berpengalaman di Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Jarak Jauh RQ-70 Dainn
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Pentagon Rilis Dokumen...
Pentagon Rilis Dokumen UFO, Ada Piring Terbang di Atas Bandara Zimbabwe
Rekomendasi
Banyuwangi Kota Pembuka...
Banyuwangi Kota Pembuka Satu Indonesia Awards 2026, Bupati: SDM Kunci Kemajuan Daerah
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Syiar Islam Harus Dekat...
Syiar Islam Harus Dekat dengan Masyarakat
Berita Terkini
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Infografis
10 Radar Militer Terbaik...
10 Radar Militer Terbaik di Dunia, Sudah Teruji di Medan Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved