Mantan Jenderal AS Prediksi Kegagalan Menginvasi Ukraina Bakal Picu Runtuhnya Rusia
Sabtu, 12 November 2022 - 09:33 WIB
loading...
A
A
A
“Tidak ada yang akan tertarik membeli senjata Rusia setelah melihat kinerja sebagian besar peralatan Rusia,” katanya.
"Dan saya pikir Kremlin memainkan kartu gas terlalu dini, sehingga Jerman pun punya waktu untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan."
Sebuah laporan Oktober dari Badan Energi Internasional menyebutkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina dapat melihat gas yang diperdagangkan secara internasional turun menjadi 15 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan 30 persen tahun lalu.
Laporan badan tersebut mengatakan hilangnya Eropa sebagai pasar terbesarnya dan sanksi ekonomi yang lebih keras akan merugikan Rusia USD1 triliun dalam pendapatan ekspor hidrokarbon pada tahun 2030.
Bagaimana pun, Sussex mengatakan Rusia mungkin telah melindungi dirinya dari beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh sanksi Barat. "Sebagian melalui dana kekayaan negara dan sebagian melalui harga energi yang tinggi," katanya.
Tanda Akhir dari Putin?
Menurut Sussex, terlepas dari upacara aneh Vladimir Putin yang meresmikan aneksasi Rusia atas empat wilayah Ukraina, keretakan mulai terlihat dalam posisinya yang dulu tak tertembus.
“Ditemukan mitra baru dan pasar baru di India, misalnya, dan Indonesia,” katanya.
“Jadi saya tidak terlalu yakin bahwa keruntuhan ekonomi Rusia sudah di depan mata," ujarnya.
"Rusia memang memiliki kecenderungan untuk dapat mengacaukan hal-hal ini."
Alasan ketiga federasi bisa runtuh, menurut Hodges, adalah karena ukuran Rusia yang luas dan populasi yang relatif kecil. Menurutnya, Rusia akan berjuang untuk mempertahankan solidaritas sipil di antara banyak kelompok etnis yang berbeda di seluruh negeri, dan juga berjuang untuk kemampuannya mempertahankan perbatasannya.
"Orang China, saya pikir, mungkin melihat Siberia sambil berkata, 'Oke, itu benar-benar milik kita'. Dan saya tidak berpikir bahwa Rusia akan dapat menghentikannya," katanya.
"Tidak ada lagi yang takut dengan tentara Rusia," imbuh dia.
Hodges percaya masyarakat internasional tidak cukup memperhatikan kemungkinan runtuhnya Federasi Rusia.
Dia mengatakan sekarang adalah waktunya untuk mengajukan pertanyaan sulit untuk belajar dari kesalahan yang dibuat ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991.
"Itu terjadi begitu cepat, kami terkejut," katanya.
"Banyak orang berasumsi bahwa [Rusia akan] menjadi kapitalistik, mereka akan menjadi demokratis dan semuanya akan menjadi lebih baik, dan kita tidak perlu khawatir tentang agresi Rusia lagi. Betapa naifnya kita."
Stok senjata nuklir Rusia, kata Hodges, menjadi perhatian khusus.
"Ada ribuan senjata nuklir di luar sana, dan, tentu saja, Iran akan senang mendapatkan beberapa senjata nuklir itu," ujarnya.
"Dan saya pikir Kremlin memainkan kartu gas terlalu dini, sehingga Jerman pun punya waktu untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan."
Sebuah laporan Oktober dari Badan Energi Internasional menyebutkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina dapat melihat gas yang diperdagangkan secara internasional turun menjadi 15 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan 30 persen tahun lalu.
Laporan badan tersebut mengatakan hilangnya Eropa sebagai pasar terbesarnya dan sanksi ekonomi yang lebih keras akan merugikan Rusia USD1 triliun dalam pendapatan ekspor hidrokarbon pada tahun 2030.
Bagaimana pun, Sussex mengatakan Rusia mungkin telah melindungi dirinya dari beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh sanksi Barat. "Sebagian melalui dana kekayaan negara dan sebagian melalui harga energi yang tinggi," katanya.
Tanda Akhir dari Putin?
Menurut Sussex, terlepas dari upacara aneh Vladimir Putin yang meresmikan aneksasi Rusia atas empat wilayah Ukraina, keretakan mulai terlihat dalam posisinya yang dulu tak tertembus.
“Ditemukan mitra baru dan pasar baru di India, misalnya, dan Indonesia,” katanya.
“Jadi saya tidak terlalu yakin bahwa keruntuhan ekonomi Rusia sudah di depan mata," ujarnya.
"Rusia memang memiliki kecenderungan untuk dapat mengacaukan hal-hal ini."
Alasan ketiga federasi bisa runtuh, menurut Hodges, adalah karena ukuran Rusia yang luas dan populasi yang relatif kecil. Menurutnya, Rusia akan berjuang untuk mempertahankan solidaritas sipil di antara banyak kelompok etnis yang berbeda di seluruh negeri, dan juga berjuang untuk kemampuannya mempertahankan perbatasannya.
"Orang China, saya pikir, mungkin melihat Siberia sambil berkata, 'Oke, itu benar-benar milik kita'. Dan saya tidak berpikir bahwa Rusia akan dapat menghentikannya," katanya.
"Tidak ada lagi yang takut dengan tentara Rusia," imbuh dia.
Hodges percaya masyarakat internasional tidak cukup memperhatikan kemungkinan runtuhnya Federasi Rusia.
Dia mengatakan sekarang adalah waktunya untuk mengajukan pertanyaan sulit untuk belajar dari kesalahan yang dibuat ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991.
"Itu terjadi begitu cepat, kami terkejut," katanya.
"Banyak orang berasumsi bahwa [Rusia akan] menjadi kapitalistik, mereka akan menjadi demokratis dan semuanya akan menjadi lebih baik, dan kita tidak perlu khawatir tentang agresi Rusia lagi. Betapa naifnya kita."
Stok senjata nuklir Rusia, kata Hodges, menjadi perhatian khusus.
"Ada ribuan senjata nuklir di luar sana, dan, tentu saja, Iran akan senang mendapatkan beberapa senjata nuklir itu," ujarnya.
Lihat Juga :