Bukan Pertanda Baik! Pemilu AS Berlangsung Saat Gerhana Bulan Darah untuk Pertama Kali

Selasa, 08 November 2022 - 11:02 WIB
loading...
Bukan Pertanda Baik!...
Gerhana bulan total yang disebut Super Blood Wolf Moon terlihat dari Encinitas, California, 20 Januari 2019. Foto/REUTERS/Mike Blake
A A A
WASHINGTON - Banyak budaya manusia mengembangkan mitos tentang gerhana, termasuk melihatnya sebagai nasib buruk atau pertanda buruk tentang peristiwa yang akan datang.

Ada banyak kekhawatiran seputar pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (8/11/2022): siapa yang akan menang dalam pertarungan politik yang sengit?

Mungkinkah kekerasan politik terjadi? Akankah kedua belah pihak setuju untuk menghormati hasilnya, atau akankah mereka mengklaim terjadi penipuan, seperti pada tahun 2020?

Nah, tambahkan gerhana bulan ke daftar hal-hal yang membuat Anda khawatir pada Hari Pemilihan.

Baca juga: Setelah Bikin Gerah Biden, Arab Saudi Siap Sambut Xi Jinping

Untuk pertama kalinya dalam sejarah AS, peristiwa astronomi besar terjadi pada hari yang sama dengan saat orang-orang Amerika memberikan suara mereka.

Untuk warga Amerika, gerhana bulan akan terlihat sebagian atau seluruhnya pada Selasa pagi, yang berlangsung sekitar pukul 03.00 Waktu Bagian Timur (GMT-5) hingga sekitar pukul 06.41.

Bagi penonton di Australia, Selandia Baru, dan Asia, gerhana akan terjadi mulai pukul 20:09 Waktu Bagian Timur Australia (GMT+11) pada Selasa malam dan berlangsung hingga 22:41.

Baca juga: Kapal Selam Nuklir Inggris Kebakaran, Misi Sangat Rahasia Dibatalkan

Itu berarti bahwa hanya beberapa jam kemudian, jutaan orang akan memberikan suara dalam pemilu paruh waktu AS, ketika semua 435 anggota DPR AS akan dipilih, bersama dengan 33 senator AS dan berbagai kantor tingkat negara bagian dan lokal juga.

Banyak perlombaan pemilihan kunci yang sangat sengit karena Partai Demokrat mencoba mempertahankan mayoritas mereka di tengah kinerja buruk Presiden AS Joe Biden, yang juga seorang Demokrat.

Di sisi lain, Partai Republik mencoba meyakinkan pemilih bahwa mereka dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah-masalah mendesak negara itu.

Ini akan menjadi pemilihan AS pertama sejak November 2020, yang dinodai oleh tuduhan kecurangan pemilu oleh Presiden AS saat itu Donald Trump yang menolak menerima kekalahannya dari Biden.

Penolakan itu memuncak dalam serangan kekerasan oleh para pengikutnya di Kongres AS pada Januari 2021 yang menewaskan lima orang. Insiden itu mengakibatkan ratusan orang telah didakwa dengan kejahatan serius.

Kadang-kadang dijuluki "bulan darah" karena rona merah tua yang terlihat pada bulan, insiden itu tidak lebih dari bulan yang melewati bayangan Bumi.

Beberapa mitos mengungkap kehadiran gerhana terkait dengan kejadian buruk di masa depan. Benar atau tidaknya mitos itu tentu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Meski demikian, berbagai perkembangan saat ini tampaknya menunjukkan masa depan suram bagi AS dan seluruh dunia. Misalnya, inflasi dan kenaikan harga energi serta kebutuhan pokok yang membebani banyak orang di penjuru dunia, serta konflik Ukraina dan Rusia yang tak kunjung berakhir.

Karena orbitnya agak lonjong, bulan tidak selalu lewat tepat di belakang planet, dari sudut pandang matahari, tetapi sering kali, dan hasilnya spektakuler.

Nikmati gerhana saat itu berlangsung (yang seharusnya sekitar 1 jam 25 menit), karena yang berikutnya tidak akan datang sampai 13 Maret 2025.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Fasilitas Gas Qatar, Korban Berjatuhan
Rekomendasi
18 Gol, 6 Piala Dunia:...
18 Gol, 6 Piala Dunia: Messi Bikin Klose Angkat Topi
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Berita Terkini
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Infografis
Susu Cepat Turunkan...
Susu Cepat Turunkan Gula Darah, Sangat Baik Diminum saat Sarapan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved