AS Hendak Kerahkan Pesawat Pengebom Nuklir ke Australia, China Marah

Selasa, 01 November 2022 - 11:57 WIB
loading...
A A A
Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi Global Times yang dikelola Partai Komunis China (PKC) mengeluarkan peringatan yang tidak menyenangkan kepada Australia.

Menurutnya, Australia perlu menanggung risiko dari langkah Amerika tersebut.

“Rudal Dongfeng PLA pasti terbang lebih cepat daripada pesawat pengebom B-52,” tulis Hu di Twitter.

“Jika Australia ingin menjadi 'Guam besar', maka Australia harus menanggung risiko strategis yang setimpal," lanjut dia.

Dokumen yang diperoleh Four Corners menunjukkan fasilitas yang direncanakan, yang akan mencakup area parkir dan pusat pemeliharaan yang berdampingan, akan digunakan untuk skuadron B-52 yang dikerahkan.

“Kemampuan untuk mengerahkan pesawat pengebom Angkatan Udara AS ke Australia mengirimkan pesan yang kuat kepada musuh tentang kemampuan kami untuk memproyeksikan kekuatan udara yang mematikan,” kata Angkatan Udara AS pada program tersebut.

Menurut program investigasi itu, rencana pangkalan udara Tindal—diperkirakan menelan biaya hingga USD100 juta dan selesai pada tahun 2026—adalah bagian dari upgrade aset pertahanan yang jauh lebih besar di seluruh Australia utara, termasuk pangkalan mata-mata Pine Gap.

Departemen Pertahanan mengonfirmasi bahwa AS mendanai sebuah proyek untuk membangun apron parkir pesawat di Pangkalan Tindal, yang mampu menampung hingga enam pesawat B-52 dan jenis pesawat lainnya.

“Proyek ini menyediakan fungsionalitas untuk penggunaan Angkatan Pertahanan Australia dan juga dapat menampung jenis pesawat lain, meningkatkan kapasitas kami untuk berlatih dengan dan menjadi tuan rumah mitra internasional,” kata seorang juru bicara departemen tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Zelensky Ajak Putin...
Zelensky Ajak Putin Bertemu di AS: Kalau Diminta Trump Dia Sulit Menolak
Rekomendasi
HUT ke-499 DKI, Parade...
HUT ke-499 DKI, Parade Mobil Hias hingga Tarian Khas Jakarta Meriahkan Jakfestival di Ancol
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
13 Kiai Berkumpul di...
13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di Pesantren
Berita Terkini
Israel Melakukan Segala...
Israel Melakukan Segala Cara untuk Menggagalkan Perundingan AS dan Iran
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved