Arab Saudi Resmi Ajukan Keanggotaan BRICS, AS Makin Emosi

Rabu, 19 Oktober 2022 - 16:17 WIB
loading...
Arab Saudi Resmi Ajukan...
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa bertemu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Jeddah. Foto/Saudi gazette
A A A
RIYADH - Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyatakan Arab Saudi benar-benar ingin bergabung dengan aliansi BRICS.

Bergabungnya Arab Saudi menandakan potensi ekspansi dramatis dari blok tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) atas krisis Rusia-Ukraina.



Ramaphosa mengatakan kepada wartawan tentang langkah Saudi mengajukan keanggotaan BRICS, saat dia mengakhiri kunjungan kenegaraannya selama dua hari ke kerajaan itu pada Minggu.

Perjalanan itu termasuk pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan para pemimpin Saudi lainnya.

"Putra mahkota memang mengungkapkan keinginan Arab Saudi untuk menjadi bagian dari BRICS, dan mereka bukan satu-satunya negara," tutur Ramaphosa.

Baca juga: Jenderal Armagedon Rusia Pemimpin Perang di Ukraina Bicara untuk Pertama Kali

Kelompok itu, yang dinamai berdasarkan negara-negara anggota Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dijadwalkan bertemu tahun depan di Johannesburg untuk pertemuan puncak tahunannya.

Prospek ekspansi kemungkinan akan menjadi agenda utama, karena blok tersebut diperkirakan akan mempertimbangkan menambahkan negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Mesir dan Aljazair.

“Negara-negara BRICS akan bertemu dalam pertemuan puncak tahun depan di bawah kepemimpinan Afrika Selatan, dan masalah ini akan dipertimbangkan,” ungkap Ramaphosa.

Baca juga: Pejabat Ukraina Hina Drone Bayraktar Turki dalam Wawancara Prank

“Dan sudah, sejumlah negara atau negara telah melakukan pendekatan ke negara-negara anggota lainnya, dan kami telah memberi mereka jawaban yang sama, mengatakan itu akan dibahas oleh mitra BRICS sendiri, lima di antaranya, dan setelah itu sebuah keputusan akan dibuat,” papar dia.

Pembicaraan Saudi-Afrika Selatan terjadi di tengah pertikaian antara Riyadh dan Washington atas keputusan OPEC memangkas kuota produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari.

Presiden AS Joe Biden pekan lalu mengancam Arab Saudi dengan "konsekuensi" yang tidak ditentukan dan menuduh sekutu lama itu berpihak pada Rusia dalam krisis Ukraina.

Anggota parlemen AS telah menyerukan memutuskan kerja sama dengan Arab Saudi, seperti menghentikan penjualan senjata atau menarik dukungan militer.

Pangeran Saudi Saud al-Shaalan menanggapi dengan marah pada Sabtu, memperingatkan para pemimpin Barat untuk tidak mengancam kerajaan.

“Siapa pun yang menantang keberadaan negara dan kerajaan ini, kita semua, kita adalah proyek jihad, dan kesyahidan. Itu pesan saya kepada siapa pun yang berpikir bahwa dia dapat mengancam kita,” tegas dia.

Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman mengatakan para pemimpin Saudi “terkejut” dengan tuduhan palsu AS bahwa Riyadh mendukung Rusia melawan Ukraina.

Rusia, China, dan anggota BRICS lainnya dilaporkan sedang mengembangkan mata uang cadangan global baru, yang berpotensi merusak dominasi dolar AS.

Penambahan Arab Saudi ke blok tersebut berpotensi memiliki implikasi yang luas, mengingat kekuatan dolar sebagian berasal dari statusnya sebagai mata uang dominan di pasar minyak internasional.

Arab Saudi dilaporkan telah mempertimbangkan menjual minyak mentah dalam yuan China.

Meskipun AS dan Arab Saudi bukan sekutu formal, kemitraan mereka telah menjadi salah satu yang paling lama dan saling menguntungkan di kawasan ini.

Riyadh adalah pembeli utama senjata Amerika. AS, sebagai konsumen minyak terbesar di dunia, telah berusaha menjaga produksi minyak mentah Saudi mengalir ke pasar internasional pada tingkat yang tinggi.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Pangeran George Resmi...
Pangeran George Resmi Masuk Eton College, Biayanya Rp1,4 Miliar per Tahun!
Rekomendasi
Bursa Siang Ini Merah,...
Bursa Siang Ini Merah, Ditutup Melemah 0,73% ke 6.127
Film Tanah Runtuh Karya...
Film Tanah Runtuh Karya Denny Siregar Soroti Konflik Poso dan Ikatan Keluarga
Richard Lee Buka Suara...
Richard Lee Buka Suara usai Jadi Tersangka, Siap Bongkar Fakta di Persidangan
Berita Terkini
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved