3 Dampak Perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia
Jum'at, 07 Oktober 2022 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
1. Kenaikan Harga Komoditas Energi
Rusia menjadi salah satu negara produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, produsen Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair terbesar ketujuh di dunia. Namun, kini Rusia sedang mendisrupsi sementara rantai pasok energi dunia.
Kenaikan harga paling tinggi pada komoditas energi, terjadi pada harga minyak terhitung mencapai USD100 per barelnya, dari sebelumnya sekitar USD60-65. Hal itu pun memicu kenaikan harga pada komoditas lain, seperti nikel dan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.
Sehingga beberapa negara yang turut disupply, terpaksa mengalami kelangkaan energi. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun tidak dapat memenuhi kebutuhan energi sebab harganya sangat melonjak.
Baca: Zelensky: Saya Yakin Putin Tak Akan Selamat Jika Gunakan Nuklir
2. Kenaikan Harga Komoditas Pangan
Rusia menjadi salah satu produsen gandum terbesar nomor satu di dunia, oleh karena itu Indonesia sangat terdampak, sebab masyarakat Indonesia gemar memakan mie berbahan gandum. Namun sayang, produksi gandum dalam negeri belum memenuhi kebutuhan, sehingga Indonesia perlu mengimpor gandum dari Rusia.
Rantai distribusi pangan, mekanisme harga, transparansi pasar, tingkat dependensi global di sektor perdagangan, serta pasokan dan pengembangan teknologi pertanian pun perlu dicermati.
Rusia menjadi salah satu negara produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, produsen Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair terbesar ketujuh di dunia. Namun, kini Rusia sedang mendisrupsi sementara rantai pasok energi dunia.
Kenaikan harga paling tinggi pada komoditas energi, terjadi pada harga minyak terhitung mencapai USD100 per barelnya, dari sebelumnya sekitar USD60-65. Hal itu pun memicu kenaikan harga pada komoditas lain, seperti nikel dan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.
Sehingga beberapa negara yang turut disupply, terpaksa mengalami kelangkaan energi. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun tidak dapat memenuhi kebutuhan energi sebab harganya sangat melonjak.
Baca: Zelensky: Saya Yakin Putin Tak Akan Selamat Jika Gunakan Nuklir
2. Kenaikan Harga Komoditas Pangan
Rusia menjadi salah satu produsen gandum terbesar nomor satu di dunia, oleh karena itu Indonesia sangat terdampak, sebab masyarakat Indonesia gemar memakan mie berbahan gandum. Namun sayang, produksi gandum dalam negeri belum memenuhi kebutuhan, sehingga Indonesia perlu mengimpor gandum dari Rusia.
Rantai distribusi pangan, mekanisme harga, transparansi pasar, tingkat dependensi global di sektor perdagangan, serta pasokan dan pengembangan teknologi pertanian pun perlu dicermati.
Lihat Juga :