Tagihan Energi Menggila, 120 Ribu Perusahaan Italia Terancam Tutup
Senin, 26 September 2022 - 16:16 WIB
loading...
Orang-orang duduk di meja luar ruangan di St Marks Square, Venesia, Italia, 16 Mei 2021. Foto/REUTERS/Manuel Silvestri
A
A
A
ROMA - Lebih dari 100.000 perusahaan di Italia terancam tutup karena tagihan energi yang melonjak drastic. Portal berita Corriere della Sera melaporkan hal itu pada Sabtu (24/9/2022), mengutip Carlo Sangalli, kepala asosiasi bisnis Italia Confcommercio.
“Sudah hari ini banyak perusahaan mereorganisasi atau mengurangi layanan… Antara sekarang dan paruh pertama tahun 2023, sekitar 120.000 usaha kecil di sektor jasa berada dalam risiko… Ini adalah perkiraan hati-hati yang tidak memperhitungkan perusahaan terbesar,” ungkap Sangalli kepada outlet berita itu.
Menurut pejabat tersebut, situasi tersebut dapat menyebabkan hilangnya lebih dari 370.000 pekerjaan.
Baca juga: Media Israel Sebut Zelensky Orang Yahudi Paling Berpengaruh Tahun 2022
Sangalli mencatat harga energi di Italia jauh lebih tinggi daripada di negara lain, sehingga membebani usaha kecil dan menengah.
“Dalam hal biaya energi, hotel, bar, restoran, dan toko kami akan membayar 40-60% lebih banyak untuk tagihan mereka tahun ini daripada di Jerman, dan tiga kali lipat dari di Prancis,” papar Sangalli.
“Sudah hari ini banyak perusahaan mereorganisasi atau mengurangi layanan… Antara sekarang dan paruh pertama tahun 2023, sekitar 120.000 usaha kecil di sektor jasa berada dalam risiko… Ini adalah perkiraan hati-hati yang tidak memperhitungkan perusahaan terbesar,” ungkap Sangalli kepada outlet berita itu.
Menurut pejabat tersebut, situasi tersebut dapat menyebabkan hilangnya lebih dari 370.000 pekerjaan.
Baca juga: Media Israel Sebut Zelensky Orang Yahudi Paling Berpengaruh Tahun 2022
Sangalli mencatat harga energi di Italia jauh lebih tinggi daripada di negara lain, sehingga membebani usaha kecil dan menengah.
“Dalam hal biaya energi, hotel, bar, restoran, dan toko kami akan membayar 40-60% lebih banyak untuk tagihan mereka tahun ini daripada di Jerman, dan tiga kali lipat dari di Prancis,” papar Sangalli.
Lihat Juga :