Iran Minta IAEA Tidak Menyerah pada Tekanan Israel
Senin, 12 September 2022 - 23:10 WIB
loading...
A
A
A
Baca: PBB: Iran Bisa Buat Bom Nuklir dalam 3 Pekan
Setelah 16 bulan pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan pada 8 Agustus, bahwa blok tersebut telah memberikan tawaran terakhir untuk mengatasi kebuntuan untuk menghidupkan kembali perjanjian tersebut.
Awal bulan ini, Iran mengirim tanggapan terbarunya terhadap teks yang diusulkan UE. Tetapi Inggris, Prancis dan Jerman mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka memiliki "keraguan serius" tentang niat Iran setelah mencoba menghubungkan kebangkitan kesepakatan dengan penutupan penyelidikan IAEA.
Kanaani menyebut pernyataan Eropa "tidak konstruktif". “Baik AS maupun Eropa harus membuktikan bahwa mereka tidak memprioritaskan kepentingan rezim Zionis (Israel) ketika mengambil keputusan politik,” katanya.
Presiden AS saat itu Donald Trump mengingkari kesepakatan nuklir pada 2018, dengan mengatakan kesepakatan itu terlalu lunak terhadap Iran, dan menerapkan kembali sanksi terhadap Republik Islam. Kondisi ini mendorong Teheran untuk mulai melanggar pembatasan nuklir kesepakatan itu setahun kemudian.
Setelah 16 bulan pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan pada 8 Agustus, bahwa blok tersebut telah memberikan tawaran terakhir untuk mengatasi kebuntuan untuk menghidupkan kembali perjanjian tersebut.
Awal bulan ini, Iran mengirim tanggapan terbarunya terhadap teks yang diusulkan UE. Tetapi Inggris, Prancis dan Jerman mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka memiliki "keraguan serius" tentang niat Iran setelah mencoba menghubungkan kebangkitan kesepakatan dengan penutupan penyelidikan IAEA.
Kanaani menyebut pernyataan Eropa "tidak konstruktif". “Baik AS maupun Eropa harus membuktikan bahwa mereka tidak memprioritaskan kepentingan rezim Zionis (Israel) ketika mengambil keputusan politik,” katanya.
Presiden AS saat itu Donald Trump mengingkari kesepakatan nuklir pada 2018, dengan mengatakan kesepakatan itu terlalu lunak terhadap Iran, dan menerapkan kembali sanksi terhadap Republik Islam. Kondisi ini mendorong Teheran untuk mulai melanggar pembatasan nuklir kesepakatan itu setahun kemudian.
(esn)
Lihat Juga :