Moskow: Turki Tak Bisa Jual Sistem Rudal S-400 Rusia ke AS!

Kamis, 02 Juli 2020 - 10:09 WIB
loading...
Moskow: Turki Tak Bisa...
Komponen sistem pertahanan rudal S-400 Rusia tiba dengan pesawat kargo di dekat Bandara Murted, Ankara, 27 Agustus 2019. Foto/Militer Turki/Kementerian Pertahanan Turki/Handout via REUTERS
A A A
MOSKOW - Moskow menegaskan Turki tidak bisa menjual kembali sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia kepada negara lain termasuk Amerika Serikat (AS) tanpa izin Moskow.

Hal itu disampaikan juru bicara layanan federal Rusia untuk militer dan kerjasama teknis, Maria Vorobyova, sebagaimana dilaporkan Reuters yang mengutip kantor berita Interfax, kemarin (1/7/2020).

Pernyataan Vorobyova tersebut sebagai respons untuk anggota Senat Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, John Thune, yang mengusulkan sebuah undang-undang yang memungkinkan pemerintah Presiden Donald Trump untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia dari Turki.

Usul itu dipuji mantan pejabat Pentagon Jim Townsend sebagai sebagai taktik cerdas, yakni mengeksploitasi teknologi sistem rudal canggih Moskow sekaligus menyingkirkannya dari Ankara.

Senjata pertahanan canggih buatan Rusia ini telah jadi pemantik perseteruan antara Washington dan Ankara setelah pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan nekat membelinya dari Moskow meski ditentang Amerika.

Amerika sejak awal menentang pemerintah Erdogan mengakuisisi sistem rudal Rusia tersebut dengan alasan bisa membahayakan jet tempur siluman F-35 AS, termasuk membuka peluang Moskow mengetahui rahasia kelemahan jet tempur itu. Alasan lain, S-400 Moskow tidak kompatibel dengan sistem pertahanan NATO.(Baca: Senator Sarankan AS Beli Sistem Rudal S-400 Rusia dari Turki )

Namun, pemerintah Erdogan nekat membelinya dan membuat pemerintah Presiden Donald Trump mendepak Ankara dari keanggotaan program konsorsium bersama jet tempur siluman F-35. Bahkan, Washington menangguhkan pengiriman jet tempur yang telah dibeli Turki.

Senator Thune mempertimbangkan amandemen Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) 2021 yang dapat memungkinkan Washington untuk membeli perangkat militer berbahaya Rusia itu melalui anggaran pengadaan Angkatan Darat AS.

"Jumlah yang diperlukan mungkin diizinkan untuk digunakan oleh Angkatan Darat pada 'Missile Procurement, Army' untuk pembelian sistem pertahanan rudal S-400," bunyi rancangan amandemen NDAA 2021 yang diusulkan Thune.

Sementara itu, Ketua Komite Duma Negara Rusia untuk Urusan Internasional, Leonid Slutsky, mengatakan proposal Senator Thune "tidak berprinsip" dan "sinis".

"Saya tidak berpikir ini akan terjadi dan saya pikir Turki tidak akan mempertimbangkan proposal ini," kata Slutsky seperti dikutip Sputnik Turkish.

Turki menandatangani kesepakatan untuk membeli empat baterai sistem rudal itu dari Rusia pada September 2017 dengan harga hampir USD2,5 miliar. Turki sejauh ini telah menerima batch pertama senjata pertahanan tersebut yang menelan biaya USD1,3 miliar dolar, dan batch kedua dengan biaya USD1,2 miliar masih dalam proses.

Perjanjian yang ditandatangani antara Moskow dan Ankara belum diungkapkan kepada publik, oleh karena itu rincian tentang transfer teknologi dan produksi bersama, serta rincian lainnya seperti kemungkinan menjual sistem pertahanan kepada pihak ketiga tidak tersedia untuk publik. (Baca juga: India Bentrok dengan China, Rusia Percepat Pengiriman S-400 ke New Delhi )

Pada awal Juni, Duta Besar Rusia untuk Ankara Alexei Yerhov mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNN Turk bahwa Rusia tidak akan memiliki sikap penentangan terhadap apa yang dilakukan Turki dengan sistem rudal itu karena Ankara adalah "pemilik sistem".

"Katakanlah saya distributor mobil dan Anda ingin membeli kendaraan dari saya. Kami mendapat uang dan menjual kendaraan kepada Anda. Kendaraan ini milik Anda. Apakah Anda pergi ke pantai, membawa kentang atau memasang senapan mesin di atasnya, bergabung dengan perang, itu adalah hak alami Anda untuk menyimpannya di garasi," kata Yerhov.

Namun, melihat pernyataan baru-baru ini oleh pejabat Rusia, tampaknya Turki diizinkan untuk "membawa kentang" dengan sistem S-400, seperti yang disarankan oleh duta besar Rusia, tetapi tidak diizinkan untuk menjualnya ke Amerika Serikat.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Bukan Hanya Trump, Presiden...
Bukan Hanya Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian Juga Teken MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
AS Jual Rudal AMRAAM...
AS Jual Rudal AMRAAM ke Arab Saudi Senilai Rp57,6 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved