AS Dorong Embargo Senjata Iran, Rusia: Kebijakan Mencekik Maksimum
Rabu, 01 Juli 2020 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
“Tugasnya adalah untuk mencapai perubahan rezim atau menciptakan situasi di mana Iran benar-benar tidak akan bisa bernafas. Ini seperti meletakkan lutut ke leher seseorang,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/7/2020).
Pernyataan Nebenzia ini seolah referensi terselubung terkait kematian seorang pria berkulit hitam di Minneapolis setelah seorang polisi kulit putih berlutut di lehernya. Kematian George Floyd memicu protes di seluruh Amerika Serikat dan di seluruh dunia.
Dewan Keamanan mengadakan pertemuan pada hari Selasa untuk membahas laporan oleh Sekretaris Jenderal AS Antonio Guterres yang menetapkan bahwa rudal jelajah yang digunakan dalam beberapa serangan terhadap fasilitas minyak dan bandara internasional di Arab Saudi tahun lalu adalah "asal Iran." (Baca: AS Sita Persenjataan Asal Iran Terkait Serangan ke Saudi )
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdullah Al Mouallimi mengatakan Rusia dan China telah "bersimpati" terhadap situasi Riyadh, tetapi ketika sampai pada proposal untuk memperpanjang embargo senjata di Iran, mereka mungkin memiliki banyak nilai untuk diselesaikan dengan Amerika Serikat.
"Kami berusaha memisahkan kedua masalah dalam diskusi kami dengan mereka, yang terbuka, merupakan diskusi persahabatan, didasarkan pada hubungan baik yang kami nikmati dengan kedua negara," katanya dalam konferensi pers Selasa malam. (Baca: Saudi dan AS Dorong Perpanjangan Embargo Senjata PBB pada Iran )
Jika tidak berhasil memperpanjang embargo senjata, Washington telah mengancam untuk memicu semua sanksi PBB terhadap Iran di bawah kesepakatan nuklir meskipun telah keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018 lalu. Para diplomat mengatakan Washington akan menghadapi pertarungan yang sulit. (Baca: AS Ancam Hidupkan Kembali Seluruh Sanksi PBB Terhadap Iran )
Pernyataan Nebenzia ini seolah referensi terselubung terkait kematian seorang pria berkulit hitam di Minneapolis setelah seorang polisi kulit putih berlutut di lehernya. Kematian George Floyd memicu protes di seluruh Amerika Serikat dan di seluruh dunia.
Dewan Keamanan mengadakan pertemuan pada hari Selasa untuk membahas laporan oleh Sekretaris Jenderal AS Antonio Guterres yang menetapkan bahwa rudal jelajah yang digunakan dalam beberapa serangan terhadap fasilitas minyak dan bandara internasional di Arab Saudi tahun lalu adalah "asal Iran." (Baca: AS Sita Persenjataan Asal Iran Terkait Serangan ke Saudi )
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdullah Al Mouallimi mengatakan Rusia dan China telah "bersimpati" terhadap situasi Riyadh, tetapi ketika sampai pada proposal untuk memperpanjang embargo senjata di Iran, mereka mungkin memiliki banyak nilai untuk diselesaikan dengan Amerika Serikat.
"Kami berusaha memisahkan kedua masalah dalam diskusi kami dengan mereka, yang terbuka, merupakan diskusi persahabatan, didasarkan pada hubungan baik yang kami nikmati dengan kedua negara," katanya dalam konferensi pers Selasa malam. (Baca: Saudi dan AS Dorong Perpanjangan Embargo Senjata PBB pada Iran )
Jika tidak berhasil memperpanjang embargo senjata, Washington telah mengancam untuk memicu semua sanksi PBB terhadap Iran di bawah kesepakatan nuklir meskipun telah keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018 lalu. Para diplomat mengatakan Washington akan menghadapi pertarungan yang sulit. (Baca: AS Ancam Hidupkan Kembali Seluruh Sanksi PBB Terhadap Iran )
Lihat Juga :