Turki Mengaku Tak Perlu Izin untuk Gelar Operasi Militer di Suriah

Jum'at, 22 Juli 2022 - 04:45 WIB
loading...
Turki Mengaku Tak Perlu...
Turki Mengaku Tak Perlu Izin untuk Gelar Operasi Militer di Suriah. FOTO/Reuters
A A A
ANKARA - Turki memperingatkan bahwa mereka tidak memerlukan izin siapa pun untuk melakukan serangan militer baru terhadap tersangka militan Kurdi di Suriah .

Komentar dari Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu datang dua hari setelah pertemuan puncak di Teheran. Dalam pertemuan itu, Rusia dan Iran mendesak untuk menentang kampanye baru yang diusulkan Turki di Suriah utara.

Baca: Turki Marah Calon PM Inggris Liz Truss akan Kirim Pengungsi ke Ankara

“Kami bertukar pikiran, tetapi kami tidak pernah meminta dan kami tidak pernah meminta izin untuk operasi militer kami,” kata Cavusoglu dalam wawancara yang disiarkan televisi, seperti dikutip dari AFP, Kamis (21/7/2022).

“Kami tidak akan meminta izin kepada siapa pun dalam perang melawan terorisme. Itu bisa terjadi suatu malam, tiba-tiba,” kata Cavusoglu, mengacu pada dimulainya dorongan militer baru.

Komentar tersebut menggemakan peringatan berbulan-bulan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan tentang Turki yang akan segera meluncurkan kampanye darat baru di Suriah. Serangan itu akan menjadi yang kelima sejak 2016.

Sebagian besar serangan Turki sebelumnya menargetkan militan Kurdi yang dihubungkan oleh Ankara ke kelompok yang telah melakukan pemberontakan selama beberapa dekade melawan negara Turki.

Baca: Arab Saudi, Turki dan Mesir akan Gabung BRICS

Baik Rusia dan Iran memiliki pasukan atau milisi di daerah-daerah yang disebutkan sebagai kemungkinan target serangan baru Turki.Teheran dan Moskow mendukung pemerintah Suriah selama konflik negara itu, sementara Ankara mendukung pemberontak.

Sebelumnya, Erdogan mengatakan rencana pemerintahnya untuk melakukan serangan militer baru di Suriah utara akan dibahas selama gerilyawan Kurdi terus menimbulkan ancaman keamanan bagi negaranya.

Erdogan juga meminta Amerika Serikat untuk menarik pasukan dari timur Sungai Efrat. Ia menuduh sekutu NATO itu, sekali lagi, melatih dan membantu milisi Kurdi Suriah yang dianggap Ankara sebagai teroris.

Pada bulan Mei, Erdogan mengumumkan rencana operasi militer baru di Suriah untuk mengusir milisi Kurdi Suriah yang menurut Ankara merupakan perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan atau PKK yang dilarang. Rencana tersebut termasuk melanjutkan upaya Turki untuk menciptakan zona aman 30 km di sepanjang perbatasan dengan Suriah dan memungkinkan pemulangan sukarela pengungsi Suriah dari Turki, kata Erdogan.

Baca: Turki Sukses Uji Rudal Canggih Gokdogan, Senjata untuk Target yang Tak Terlihat

“Operasi baru akan terus menjadi agenda kami selama masalah keamanan nasional kami tidak diselesaikan,” kata Erdogan. “Kami ingin Rusia dan Iran berada di pihak kami dalam perjuangan kami melawan organisasi teroris,” lanjutnya, seperti dikutip dari AP.

“Amerika memberi makan organisasi teroris di sana. Segera setelah Amerika menarik diri atau tidak memberi makan organisasi teroris ini, tugas kami akan menjadi lebih mudah,” tambahnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Helikopter Perusahaan...
Helikopter Perusahaan Minyak Arab Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Rekomendasi
Brasil Lolos ke 16 Besar...
Brasil Lolos ke 16 Besar usai Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
Gelar Sarjana Tak Cukup,...
Gelar Sarjana Tak Cukup, Masih Berliku untuk Menjadi Dokter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved