Warga Sri Lanka Menjerit, Harga Pangan Meroket Tak Terjangkau

Senin, 18 Juli 2022 - 23:30 WIB
loading...
Warga Sri Lanka Menjerit,...
Warga Sri Lanka Menjerit, Harga Pangan Meroket Tak Terjangkau. FOTO/Reuters
A A A
KOLOMBO - Seperti kebanyakan warga Sri Lanka , saat ini Milton Pereira dan keluarganya tidak mampu membeli makanan yang cukup. Krisis ekonomi terburuk di negara itu telah mendorong inflasi yang merajalela dan memicu protes yang pekan lalu menjatuhkan presiden.

Kini, warga Sri Lanka membeli lebih sedikit, makan lebih sedikit, dan bekerja lebih sedikit. "Sangat sulit untuk hidup, bahkan sepotong roti pun mahal," kata Pereira kepada AFP di luar rumahnya yang sederhana di Slave Island, sebuah kantong miskin di ibu kota Kolombo.

Baca: Sri Lanka Mulai Memilih Presiden Baru

"Jika kita makan satu, kita melewatkan yang lain," ujarnya. Dengan enam anak dalam keluarga, pria berusia 74 tahun itu mengatakan, yang terbaik yang mereka mampu beli dalam beberapa pekan terakhir adalah sesekali ikan, dipotong kecil-kecil untuk semua anggota keluarga.

“Karena kami tidak punya banyak uang, terkadang kami memberikan ikan kepada anak-anak,” katanya. Orang dewasa, tambahnya, "hanya makan kuahnya".

Putra Peirera, BG Rajitkumar, adalah buruh listrik yang sudah berbulan-bulan tidak bekerja. “Harga pangan naik setiap hari. Kenaikan harga eksponensial ini adalah hal paling mengerikan yang pernah saya hadapi," ungkapnya.

Inflasi makanan di Sri Lanka mencapai 80,1 persen pada tahun ini hingga Juni, menurut angka resmi. Di toko sayur terdekat, penduduk membayar 1.000 rupee (USD2,80) untuk satu kilo labu, dua kali lipat dari tiga bulan lalu. Seorang pemilik toko, Mohamad Faizal mengatakan, beberapa pelanggannya sekarang hanya mampu membeli 100g.

Baca: Sri Lanka Yakin China Akan Gelontorkan Bantuan Rp60 Triliun

"Harganya sudah naik," katanya. "Alasan utamanya adalah tidak ada cara untuk mengangkut barang-barang itu karena tidak ada bahan bakar," lanjutnya.

Pasar grosir sayuran utama New Manning di kota itu ramai pada hari Minggu karena pembeli, penjual, dan kuli barang berdesak-desakan dengan karung-karung hasil bumi. Tetapi para pedagang mengatakan, bisnis telah turun lebih dari setengahnya sejak Maret.

"Harga untuk semuanya naik lebih dari dua kali lipat," kata pedagang MM Mufeed. "Beberapa sayuran yang tidak terjual terbuang sia-sia dan banyak orang miskin datang untuk mengambilnya setiap hari setelah pasar tutup," jelasnya

Menurutnya, penjualan turun 70 persen. "Kadang-kadang saya menjual kepada orang miskin dengan harga lebih murah untuk menghindari pemborosan makanan dan sedikit make up," jelasnya.

Baca: Ketua Parlemen Sri Lanka: Pengunduran Diri Presiden Diterima Secara Sah

Tapi kentang, bawang merah dan bawang putih terus diimpor dari India, Pakistan dan China, kata pengusaha ekspor-impor Ashley Jennycloss.

“Pasokan makanan tidak masalah, tetapi karena tidak ada bahan bakar yang membuat sulit dan semuanya menjadi mahal,” kata Jeeva, pedagang lain, yang hanya menyebut satu nama.

Beberapa orang melakukan perjalanan jarak jauh dengan berjalan kaki ke pasar New Manning di pagi hari untuk membeli sejumlah kecil sayuran untuk dapur mereka dengan harga grosir.

"Saya tidak punya pilihan selain berjalan 10 km ke pasar ini karena makanan di sini lebih murah dibandingkan dengan toko ritel di dekat rumah saya," kata Howzy, 50 tahun.

(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Dorong Media CCTV Masuk ke Bisnis E-commerce
AS Dituding Sengaja...
AS Dituding Sengaja Dorong Warga Kuba ke dalam Kelaparan
Perundingan AS dan Iran...
Perundingan AS dan Iran Terhenti, Dunia Akan Terus Terguncang
Sri Lanka Diterjang...
Sri Lanka Diterjang Krisis Ekonomi akibat Perang Iran, Indonesia Harus Waspada
Sri Lanka Tolak Permintaan...
Sri Lanka Tolak Permintaan AS untuk Mendaratkan 2 Jet Tempur di Bandara Mattala
Sri Lanka Berupaya Jamin...
Sri Lanka Berupaya Jamin Keamanan Kapal Perang Iran Kedua usai Serangan Kapal Selam AS
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Trump: Jika Iran Tak...
Trump: Jika Iran Tak Berperilaku Baik, Kita Akan Jatuhkan Bom di Kepala Mereka
Rekomendasi
LAZ Abulyatama Indonesia...
LAZ Abulyatama Indonesia Resmikan Cabang LPP Jawa Barat
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Diperiksa Kejagung 9...
Diperiksa Kejagung 9 Jam Lebih, Sony Sonjaya Bungkam
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved