Mantan Presiden Polandia Sarankan Pengurangan Populasi Rusia Jadi Segini

Senin, 11 Juli 2022 - 17:24 WIB
loading...
Mantan Presiden Polandia...
Mantan Presiden Polandia Lech Walesa. Foto/REUTERS
A A A
WARSAWA - Mantan Presiden Polandia Lech Walesa memperingatkan dunia tidak akan pernah aman selama Rusia modern ada.

Walesa mengatakan hal itu kepada penyiar Prancis LCI pada Jumat (8/7/2022). Dia mengklaim Rusia adalah "imperial" di alam dan akan "terus mencaplok rakyat."

“Bahkan jika negara-negara Barat akan membantu Ukraina untuk memenangkan konflik yang sedang berlangsung dengan Moskow, mereka masih akan gagal untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman,” ujar Walesa.

Baca juga: Siap Gempur Wilayah Selatan, Ukraina Minta Warga Sipil Mengungsi

Dia menambahkan masyarakat internasional akan berpotensi melihat konflik lain yang melibatkan Rusia “dalam lima tahun.”

“Dalam sepuluh tahun, kita akan melihat Putin lain muncul,” papar dia, mengacu pada presiden Rusia Vladimir Putin, yang semakin digambarkan sebagai orang kuat otokratis oleh para pejabat dan media Barat.

“Untuk menghindari perkembangan seperti itu, Barat harus memaksakan (satu) perubahan sistem politik di Rusia. Jika terbukti tidak mungkin, mengorganisir pemberontakan akan menjadi pilihan lain,” ungkap dia.

Baca juga: China Peringatkan ASEAN: Jangan Dijadikan Bidak Catur oleh Kekuatan Besar

Menurut Walesa, “Rusia masih memiliki 60 orang, yang telah dianeksasi seperti Ukraina (sedang dianeksasi) hari ini.”

“Akan diperlukan untuk menggerakkan orang-orang itu … untuk bertindak untuk membawa populasi Rusia kembali ke kurang dari 50 juta,” ujar mantan presiden itu, menunjuk pada potensi disintegrasi kuat Rusia modern.

Menurut sensus penduduk terbaru yang diadakan pada 2021, populasi Rusia saat ini berjumlah sekitar 147 juta jiwa, menurut badan statistik negara, Rosstat, pada April.

Walesa, yang merupakan salah satu pendiri gerakan Solidaritas yang menjatuhkan pemerintahan sosialis di Polandia, juga berpendapat Barat seharusnya “menjatuhkan Rusia” tetapi akhirnya jatuh ke tangan pemimpin Soviet terakhir, citra positif Mikhail Gorbachev dan menyia-nyiakan peluangnya.

“Kita seharusnya menjatuhkan Rusia. Tapi Gorbachev terlalu pintar. Kita berkata kepada diri kita sendiri pada saat itu: 'Ada Stalin, Brezhnev, tapi Gorbachev baik'," papar Walesa, menambahkan, "Itu adalah kesalahan kita saat itu."

Menurut mantan pemimpin Polandia itu, “Rusia diizinkan menunggu masa-masa sulit dan melanjutkan seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad dan terus mencaplok orang ke dalam kerajaan mereka."

Mantan presiden Polandia itu juga membela ekspansi NATO dan Uni Eropa dengan mengatakan, “Meskipun Barat memiliki kepentingannya sendiri dan berusaha menggunakan pengaruh dan kekuasaannya, mereka melakukannya dengan cara yang demokratis.”

“Ada dua sistem sekarang: … demokrasi dan NATO, yang ingin berkembang tetapi (melakukannya) melalui cara-cara demokratis, dengan meminta persetujuan rakyat, (dan) … Rusia dan China, yang telah menggunakan metode aneksasi lama," ungkap dia.

Walesa, yang menjadi presiden antara 1990 dan 1995, baru-baru ini muncul sebagai salah satu kritikus paling sengit di Rusia.

Pada awal Februari, bahkan sebelum dimulainya aksi militer Rusia di Ukraina, mantan pemimpin Polandia itu meminta dunia “memobilisasi” untuk “tanggapan segera” terhadap serangan Rusia di Ukraina.

Saat itu, dia mengatakan serangan ke Kiev oleh Rusia harus diikuti dengan “serangan ke Moskow.”

Kembali pada awal Februari, Walesa masih menyebut Rusia “negara besar” yang hanya “memiliki masalah.” Dia juga mengakui bahwa dia “sangat menghormati Putin dan mendukungnya.”

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Status Triliuner Elon...
Status Triliuner Elon Musk Hilang usai Saham SpaceX dan Tesla Anjlok
Rekomendasi
Panglima TNI Lantik...
Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Baru di Akmil Magelang
Soroti Kasus Penyekapan...
Soroti Kasus Penyekapan di Bandung, Veronica Tan Ingatkan Bahaya Hubungan Toxic
Didakwa Terima Suap...
Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar, Hery Susanto: Saya Tidak Terima Uang
Berita Terkini
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved