Pandemi Covid-19, Amerika Latin Waspadai Peningkatan Pasien dan Korban
Jum'at, 26 Juni 2020 - 11:12 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Bolsonaro itu kerap dikritik karena meremehkan risiko yang ditimbulkan oleh virus korona. Dia menganggap sebagai “flu ringan” pada awal pandemi. Sebanyak lebih dari 1,1 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 51.000 kematian akibat virus corona di Brasil. Terlepas dari angka-angka tinggi ini, Presiden Bolsonaro berulang kali tampil di depan umum tanpa masker saat menyapa para pendukungnya.
Pekan lalu, Jair Bolsonaro meninggalkan istana tanpa mengenakan masker. Pada satu unjuk rasa, dia terekam batuk tanpa menutupi mulutnya dan pada kesempatan lain terlihat bersin serta menutupnya dengan tangannya, lalu menjabat tangan seorang perempuan tua. (Baca juga: Pengajuan KUR hingga Rp50 Juta di BRI Bisa Lewat Online)
Bolsonaro menemui pendukungnya, mengabaikan aturan pembatasan sosial dengan berjabat tangan, dan mengambil foto dengan orang-orang. Ia dan pejabat publik lainnya yang tidak mematuhi persyaratan juga akan dikenai denda 2.000 reais. Presiden Bolsonaro berpendapat sejak awal pandemi bahwa tindakan yang diambil untuk menekan penyebaran virus bisa lebih merusak daripada pandemi itu sendiri.
Padahal kewajiban untuk mengenakan masker di distrik federal mulai berlaku pada 30 April. Aturan itu diterapkan oleh gubernur distrik federal, Ibaneis Rocha, yang mengharuskan orang menutupi hidung dan mulut mereka di semua ruang publik, termasuk transportasi umum, toko-toko, dan tempat komersial dan industri. Pada 11 Mei, aturan itu diperketat bagi mereka yang melanggar didenda 2.000 reais (Rp 5,4 juta) per hari. (Lihat videonya: Rapid Test reaktif, Warga Isolasi Mandiri di tengah Pekubburan di Sragen)
Pada Senin (22/6/2020), ia memperbarui seruannya untuk mengurangi lockdown serta membuka kembali toko-toko dan bisnis. Dia mengatakan cara penanganan pandemi itu “mungkin sedikit berlebihan”. “Ekonomi harus diprioritaskan dan pernyataan itu dianggap memecah belah masyarakat,” katanya. (Andika H Mustaqim)
Pekan lalu, Jair Bolsonaro meninggalkan istana tanpa mengenakan masker. Pada satu unjuk rasa, dia terekam batuk tanpa menutupi mulutnya dan pada kesempatan lain terlihat bersin serta menutupnya dengan tangannya, lalu menjabat tangan seorang perempuan tua. (Baca juga: Pengajuan KUR hingga Rp50 Juta di BRI Bisa Lewat Online)
Bolsonaro menemui pendukungnya, mengabaikan aturan pembatasan sosial dengan berjabat tangan, dan mengambil foto dengan orang-orang. Ia dan pejabat publik lainnya yang tidak mematuhi persyaratan juga akan dikenai denda 2.000 reais. Presiden Bolsonaro berpendapat sejak awal pandemi bahwa tindakan yang diambil untuk menekan penyebaran virus bisa lebih merusak daripada pandemi itu sendiri.
Padahal kewajiban untuk mengenakan masker di distrik federal mulai berlaku pada 30 April. Aturan itu diterapkan oleh gubernur distrik federal, Ibaneis Rocha, yang mengharuskan orang menutupi hidung dan mulut mereka di semua ruang publik, termasuk transportasi umum, toko-toko, dan tempat komersial dan industri. Pada 11 Mei, aturan itu diperketat bagi mereka yang melanggar didenda 2.000 reais (Rp 5,4 juta) per hari. (Lihat videonya: Rapid Test reaktif, Warga Isolasi Mandiri di tengah Pekubburan di Sragen)
Pada Senin (22/6/2020), ia memperbarui seruannya untuk mengurangi lockdown serta membuka kembali toko-toko dan bisnis. Dia mengatakan cara penanganan pandemi itu “mungkin sedikit berlebihan”. “Ekonomi harus diprioritaskan dan pernyataan itu dianggap memecah belah masyarakat,” katanya. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :