Konspirasi Mustafa Kemal Pasha-Inggris Runtuhkan Turki Utsmani
Jum'at, 01 Juli 2022 - 10:04 WIB
loading...
A
A
A
Namun hakikat sebenarnya dari sandiwara tersebut muncul yaitu penghancuran Daulah Utsmaniyah itu bukanlah suatu perkara yang mudah.
"Mereka melihat, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan cara membuat seorang pahlawan boneka dan memberikan gambaran kepada publik bahwa ia adalah sosok yang besar dan seakan-akan hal-hal keramat muncul dari kedua tangannya," kata Ash-Shalabi.
"Dengan demikian, mereka akan mungkin untuk melakukan penikaman dengan menggunakan kedua tangan boneka itu namun tanpa menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam," sambungnya.
Baca juga: 3 Negara yang Melakukan Pemberontakan di Era Turki Utsmani
Pasukan Sekutu mulai membuat berbagai masalah dan meminta kepada Sultan untuk memadamkannya. Mereka mengusulkan nama Mustafa Kemal untuk memadamkannya agar dia menjadi pusat harapan manusia dan akan menjadi pusat penghormatan kalangan perwira tentara.
"Dengan demikian, maka posisi Mushtafa Kemal semakin mencorong dan kharismanya semakin kuat. Pada saat yang sama, nama khalifah semakin anjlok di mata manusia. Permainan Inggris ini sangat tidak gampang dilacak," kata Ash-Shalabi.
Intelijen-intelijen Inggris berhasil menemukan "impiannya" yang telah lama didambakan dalam pribadi Mustafa Kemal. Hubungan antara intelijen Inggris dan Mustafa Kemal dilakukan melalui perantara seorang intelijen yang bernama Amstrong, yang memiliki hubungan dekat dengan Mustafa kala dia berada di Palestina dan Suriah. Dimana saat itu, Mustafa Kemal menjadi komandan perang Utsmani di sana.
Amstrong mengungkapkan bagaimana pilihan jatuh kepada Mustafa satu-satunya dan bukan kepada sahabat-sahabat yang lain untuk merealisasikan langkah terakhir Inggris.
"Dia memiliki watak yang cenderung menyuruh dan melarang sehingga dia sama sekalu tidak menampakkan rasa hormat pada pemimpin-pemimpin Persatuan dan Kemajuan," ungkap Amstrong.
"Dia sering kali bertengkar dengan Anwar dan Jamal, dengan Javid yang beragama Yahudi, dengan Niyazi yang berasal dari Jerman seorang yang dikenal sangat bengis serta Thalaat seorang pegawai kecil di kantor pos," sambungnya.
Mustafa Kemal benar-benar berubah dari seorang perwira yang tidak berpengaruh menjadi seordng panglima militer yang memiliki berbagai kedudukan dan banyak memperoleh kemenangan. Dia pun mendapat gelar "Ghazi" berkat pengaruh para intelijen Inggris.
Baca juga: Inilah 3 Sekutu Turki Utsmani di Perang Dunia Pertama
"Mereka melihat, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan cara membuat seorang pahlawan boneka dan memberikan gambaran kepada publik bahwa ia adalah sosok yang besar dan seakan-akan hal-hal keramat muncul dari kedua tangannya," kata Ash-Shalabi.
"Dengan demikian, mereka akan mungkin untuk melakukan penikaman dengan menggunakan kedua tangan boneka itu namun tanpa menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam," sambungnya.
Baca juga: 3 Negara yang Melakukan Pemberontakan di Era Turki Utsmani
Pasukan Sekutu mulai membuat berbagai masalah dan meminta kepada Sultan untuk memadamkannya. Mereka mengusulkan nama Mustafa Kemal untuk memadamkannya agar dia menjadi pusat harapan manusia dan akan menjadi pusat penghormatan kalangan perwira tentara.
"Dengan demikian, maka posisi Mushtafa Kemal semakin mencorong dan kharismanya semakin kuat. Pada saat yang sama, nama khalifah semakin anjlok di mata manusia. Permainan Inggris ini sangat tidak gampang dilacak," kata Ash-Shalabi.
Intelijen-intelijen Inggris berhasil menemukan "impiannya" yang telah lama didambakan dalam pribadi Mustafa Kemal. Hubungan antara intelijen Inggris dan Mustafa Kemal dilakukan melalui perantara seorang intelijen yang bernama Amstrong, yang memiliki hubungan dekat dengan Mustafa kala dia berada di Palestina dan Suriah. Dimana saat itu, Mustafa Kemal menjadi komandan perang Utsmani di sana.
Amstrong mengungkapkan bagaimana pilihan jatuh kepada Mustafa satu-satunya dan bukan kepada sahabat-sahabat yang lain untuk merealisasikan langkah terakhir Inggris.
"Dia memiliki watak yang cenderung menyuruh dan melarang sehingga dia sama sekalu tidak menampakkan rasa hormat pada pemimpin-pemimpin Persatuan dan Kemajuan," ungkap Amstrong.
"Dia sering kali bertengkar dengan Anwar dan Jamal, dengan Javid yang beragama Yahudi, dengan Niyazi yang berasal dari Jerman seorang yang dikenal sangat bengis serta Thalaat seorang pegawai kecil di kantor pos," sambungnya.
Mustafa Kemal benar-benar berubah dari seorang perwira yang tidak berpengaruh menjadi seordng panglima militer yang memiliki berbagai kedudukan dan banyak memperoleh kemenangan. Dia pun mendapat gelar "Ghazi" berkat pengaruh para intelijen Inggris.
Baca juga: Inilah 3 Sekutu Turki Utsmani di Perang Dunia Pertama
Lihat Juga :