Siapakah Yair Lapid, Sosok Perdana Menteri Israel Berikutnya?

Selasa, 21 Juni 2022 - 17:23 WIB
loading...
Siapakah Yair Lapid,...
Yair Lapid akan menjabat Perdana Menteri Israel hingga pemilu yang direncanakan digelar pada bulan Oktober mendatang. Foto/jewish insider
A A A
TEL AVIV - Israel kembali diguncang krisis politik setelah Perdana Menteri Naftali Bannett mengumumkan bahwa ia setuju membubarkan parlemen Knesset ke-24, mendorong putaran lain dari pemilihan umum - yang diharapkan akan diadakan pada akhir Oktober.

Knesset, sebutan untuk parlemen Israel , diperkirakan akan bersidang pada Rabu depan dan memberikan suara pada RUU untuk membubarkan kamar - sebuah proses yang mungkin berlangsung hingga Senin minggu berikutnya.

Dari saat pembubaran Knesset hingga pemilihan umum, Israel akan memiliki Perdana Menteri lain, orang yang dulu bertanggung jawab atas urusan luar negerinya, yaitu Yair Lapid.

Baca juga: Parlemen Israel Dibubarkan, Menlu Yair Lapid Jadi Perdana Menteri

Dalam konferensi pers bersama mereka pada hari Senin, Bennett memuji Lapid. Dia mengatakan Lapid sebagai sosok yang bertanggung jawab dan adil, dan dia berjanji untuk menyerahkan tongkat estafet kepadanya dengan cara yang jelas dan terorganisir.

Siapa Yair Lapid dan apa yang diketahui tentang sosok Perdana Menteri Israel di masa depan itu? Berikut adalah lima fakta menarik tentang mantan Menteri Luar Negeri Israel itu seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (21/6/2022).

1. Personal

Yair Lapid adalah seorang master ilmu belah diri kareta dan telah mendapatkan sabuk hitam. Dia juga seorang jutawan dengan kekayaan yang pada 2019 ditaksir sebesar USD8 juta atau sekitar Rp118 miliar.

2. Latar belakang profesional

Sosok berusia 58 tahun itu menyelesaikan sekolah setelah menyelesaikan 12 kelas wajib, tetapi tidak pernah melanjutkan untuk mendapatkan gelar Sarjana. Sebaliknya, dia langsung mendapatkan gelar Master dan Phd, yang memicu kemarahan di Israel.

Sebelum terjun ke dunia politik, Lapid dikenal sebagai tokoh televisi. Selama bertahun-tahun, ia menulis opini untuk Maariv, salah satu surat kabar terkemuka Israel. Kemudian, dia bekerja untuk pesaing mereka, Yediot Ahronoth. Dia membawakan acara di berbagai saluran dan mewawancarai selebritas serta politisi. Selain itu, ia telah menulis 12 buku.

Baca juga: Profil Khaled Kabub, Hakim Agung Muslim Pertama di Israel

3. Karir politik

Pada 2012, Lapid masuk kancah politik, mendirikan partai Yesh Atid. Dalam pemilihan tahun berikutnya, partainya memperoleh 19 dari 120 kursi di parlemen Israel. Jumlah ini menjadi yang terbesar kedua setelah Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu.

Selama masa jabatan kedua Netanyahu, pada tahun 2014, Lapid adalah bagian dari pemerintahannya, menjabat sebagai Menteri Keuangan, tetapi ia diberhentikan pada akhir tahun itu setelah perbedaan pendapat dengan Perdana Menteri Israel itu.

Sejak itu, Lapid menyimpan dendam terhadap Netanyahu. Pada tahun 2015 dia bersumpah untuk tidak pernah duduk bersamanya di pemerintahan yang sama, sebuah janji yang dia pegang selama bertahun-tahun.

Pada 2019, Lapid bergabung dengan dua mantan anggota militer: Benny Gantz dan Boogie Yaalon, membentuk partai Biru dan Putih yang bertujuan menggulingkan Netanyahu dari kekuasaan. Meskipun mereka mendapatkan 35 kursi yang mengesankan, pada tahun 2020 "koalisi" mereka berantakan. Masing-masing berlomba sendiri.

Pada Mei 2021, setelah Netanyahu gagal membentuk koalisi, mandat diteruskan ke Lapid, yang akhirnya membentuk sebuah koalisi yang mengandalkan delapan partai dengan ideologi yang agak berlawanan. Namun setahun kemudian dan setelah perselisihan besar serta krisis keamanan dan ekonomi, Bennett dan Lapid setuju untuk membubarkan parlemen.

Baca juga: PM Israel Ingin Bentuk Pemerintahan Alternatif dengan Netanyahu

4. Pandangan politik

Pandangan politik Lapid sepenuhnya dituangkan dalam agenda partainya. Dia adalah penganut setia solusi dua negara dan dia percaya bahwa Israel harus bekerja dengan kekuatan moderat di kawasan untuk mewujudkannya.

Secara geopolitik, ia adalah pendukung Barat dan terus-menerus menganjurkan untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS) serta berbagai negara Eropa.

Lapid menganggap dirinya liberal. Dia mendukung pernikahan gay, ingin memisahkan agama dari negara, dan berusaha memperbaiki kehidupan minoritas Israel. Ia juga dikenal karena slogan-slogannya menentang korupsi dan advokasi untuk sistem kesehatan serta pendidikan yang lebih baik.

5. Kerap dikritik

Lapid mungkin adalah salah satu politisi yang paling dikritik. Pada tahun 2021, ia dikecam karena tidak mengikuti rapat kabinet virus Corona pada saat COVID-19 masih menjadi masalah mendesak.

Kemudian dia dikritik karena tidak menghadiri upacara peringatan terpenting Israel - yang didedikasikan untuk tentaranya yang gugur dan satu lagi untuk para korban teror.

Baca juga: Parlemen di Eropa Ini Berani Akui Israel Lakukan Kejahatan Apartheid pada Palestina

Kemudian, dia ditegur karena menghabiskan terlalu banyak waktu bepergian ke luar Israel dan mendedikasikan sebagian besar jadwalnya untuk wawancara daripada bekerja.

Kelompok konservatif percaya dia adalah seorang pria dengan prestasi nol dan mengancam untuk membawa negara ke ambang kehancuran keamanan serta keuangan. Di sisi lain, kelompok liberal, berpikir dia akan membuat negara kembali ke jalurnya.

Lapid tahu dia tidak bisa banyak berubah dalam empat bulan dia menjabat. Tapi dia telah diberi kesempatan dan dia berencana untuk memanfaatkannya.

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
6 Tentara Israel Tewas...
6 Tentara Israel Tewas dalam 3 Hari Terakhir Akibat Sergapan Hizbullah
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Trump: Kemampuan Militer...
Trump: Kemampuan Militer Iran Jauh Melemah
Rekomendasi
Ultah ke-34, Ayu Ting...
Ultah ke-34, Ayu Ting Ting Pamer Momen Romantis Bareng Kevin Gusnadi
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
Berita Terkini
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
6 Tentara Israel Tewas...
6 Tentara Israel Tewas dalam 3 Hari Terakhir Akibat Sergapan Hizbullah
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved