Diklaim 'Diperas' Trump Rp113,2 Triliun, Ini Respons Jepang

Rabu, 24 Juni 2020 - 15:21 WIB
loading...
Diklaim Diperas Trump...
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump (kanan) saat bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Gedung Putih, 7 Juni 2018. Foto/REUTERS/Kevin Lamarque/File Photo
A A A
TOKYO - Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton mengklaim dia pernah menyampaikan permintaan Presiden Donald Trump kepada Jepang agar membayar USD8 miliar (Rp113,2 triliun) untuk biaya tahunan pasukan Amerika di negara matahari terbit tersebut.

Pemerintah Jepang merespons cepat klaim Bolton yangterkesan sebagai "pemerasan" tersebut. Menurut Tokyo, belum ada permintaan pembayaran seperti klaim Bolton.

"Negosiasi biaya penempatan (pasukan Amerika) belum dimulai," kata Menteri Pertahanan Taro Kono pada konferensi pers reguler, hari Selasa. "Pemerintah Jepang belum menerima permintaan apa pun dari Amerika Serikat terkait masalah ini," katanya lagi, seperti dikutip Reuters, Rabu (24/6/2020).

Perjanjian saat ini yang mencakup 54.000 pasukan AS yang ditempatkan di Jepang berakhir pada Maret 2021. (Baca: John Bolton: Kim Jong-un Terbahak-bahak Tertawakan Trump )

Kono ditanya tentang buku Bolton "The Room Where It Happened: A White House Memoir", di mana dia menulis bahwa dia menyampaikan permintaan Trump kepada pejabat senior pemerintah Jepang untuk pembayaran USD8 miliar selama perjalanan ke Jepang Juli lalu. Memoar ini dirilis hari Selasa .

"Aliansi Jepang-AS adalah aset publik yang berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas kawasan ini. Pengaturan yang menguntungkan untuk satu pihak tidak akan bertahan lama," ujar Kono.

Kono mengatakan dia tidak bisa mengomentari secara spesifik apa yang telah ditulis Bolton karena sejauh ini dia tidak berhasil mendapatkan salinan buku itu.

Buku Bolton juga mengklaim bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe telah diperdaya oleh Trump untuk bertindak sebagai mediator selama kunjungan ke Iran tahun lalu, hanya untuk membuat pemimpin AS menggunakan kegagalan sebagai pengungkit untuk tujuan sebenarnya, yakni untuk membuat Jepang membeli lebih banyak Produk pertanian Amerika. Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga menyangkal klaim itu.

"Kami telah bekerja erat dengan sekutu kami, Amerika Serikat, dalam mengurangi ketegangan dan menjaga stabilitas di Timur Tengah, termasuk Iran," kata Suga. (Baca juga: Pompeo Samakan Bolton dengan Snowden, Ancam Akan Menghukumnya )

"Dan untuk perjanjian perdagangan AS-Jepang, kami percaya itu adalah win-win and balanced agreement untuk Jepang dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengatakan bahwa AS memperdaya (Jepang). "

Menurut Bolton, Trump diduga menggunakan hubungan dekatnya dengan Abe untuk keuntungannya, dengan mendesak pemimpin Jepang itu untuk membantu mendinginkan ketegangan yang meningkat antara Washington dan Teheran meskipun sangat menyadari bahwa peluang keberhasilannya tipis.

Setelah kunjungan yang gagal, lanjut Bolton, Trump mengatakan apa yang sebenarnya diinginkannya adalah agar Jepang membeli lebih banyak produk pertanian AS.

Hanya sebulan kemudian, kedua pemimpin sepakat pada kesepakatan perdagangan bilateral yang dimaksudkan untuk memangkas tarif pada produk pertanian dan industri.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Eks Presiden Korsel...
Eks Presiden Korsel Divonis 30 Tahun Penjara Terkait Operasi Drone ke Korut
Brutal! Geng Narkoba...
Brutal! Geng Narkoba Tembak Mati 5 Polisi Jelang Pembukaan Piala Dunia di Meksiko
Rekomendasi
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Muscab PPP se-Papua...
Muscab PPP se-Papua Tengah, Mardiono Dorong Kolaborasi dengan Pemda untuk Sejahterakan Rakyat
Brasil vs Maroko: Misi...
Brasil vs Maroko: Misi Selecao Akhiri Dahaga Gelar Dimulai
Berita Terkini
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
Pentagon Mengungkap...
Pentagon Mengungkap Kumpulan Data UFO Baru, Apakah Banyak Kejutan?
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Jenazah Ayatollah Khamenei...
Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved