Pecahkan Rekor, Pendaki Nepal Ini 26 Kali Mencapai Puncak Gunung Everest
Minggu, 08 Mei 2022 - 22:10 WIB
loading...
Pecahkan Rekor, Pendaki Nepal Ini 26 Kali Mencapai Puncak Gunung Everest. FOTO/Reuters
A
A
A
KATHMANDU - Kami Rita Sherpa (52), seorang sherpa Nepal mendaki Gunung Everest untuk ke-26 kalinya. Ia memecahkan rekornya sendiri yang dibuat tahun lalu, kata seorang pejabat pemerintah Nepal , Minggu (8/5/2022).
Kami Rita mendaki gunung setinggi 8.848,86 m pada hari Sabtu di sepanjang rute punggungan tenggara tradisional. Ia memimpin 10 pendaki Sherpa lainnya.
Baca: Pendaki AS Torehkan Rekor Usai Gelar Jamuan Minum Teh di Gunung Everest
"Kami Rita telah memecahkan rekornya sendiri dan membuat rekor dunia baru dalam pendakian," kata Taranath Adhikari, direktur jenderal Departemen Pariwisata di ibu kota Kathmandu, seperti dikutip dari Reuters.
Rute pendakian yang digunakan oleh Kami Rita dipelopori oleh warga Selandia Baru Sir Edmund Hillary dan sherpa Nepal Tenzing Norgay pada tahun 1953 dan tetap menjadi yang paling populer.
Tahun ini Nepal telah mengeluarkan 316 izin untuk mendaki Everest pada musim puncak, yang berlangsung hingga Mei, dibandingkan dengan 408 tahun lalu.
Negara Himalaya, yang sangat bergantung pada pendaki untuk mendapatkan devisa, menghadapi kritik karena mengizinkan kepadatan dan beberapa kematian pendaki di pegunungan pada 2019.
Kami Rita mendaki gunung setinggi 8.848,86 m pada hari Sabtu di sepanjang rute punggungan tenggara tradisional. Ia memimpin 10 pendaki Sherpa lainnya.
Baca: Pendaki AS Torehkan Rekor Usai Gelar Jamuan Minum Teh di Gunung Everest
"Kami Rita telah memecahkan rekornya sendiri dan membuat rekor dunia baru dalam pendakian," kata Taranath Adhikari, direktur jenderal Departemen Pariwisata di ibu kota Kathmandu, seperti dikutip dari Reuters.
Rute pendakian yang digunakan oleh Kami Rita dipelopori oleh warga Selandia Baru Sir Edmund Hillary dan sherpa Nepal Tenzing Norgay pada tahun 1953 dan tetap menjadi yang paling populer.
Tahun ini Nepal telah mengeluarkan 316 izin untuk mendaki Everest pada musim puncak, yang berlangsung hingga Mei, dibandingkan dengan 408 tahun lalu.
Negara Himalaya, yang sangat bergantung pada pendaki untuk mendapatkan devisa, menghadapi kritik karena mengizinkan kepadatan dan beberapa kematian pendaki di pegunungan pada 2019.
Lihat Juga :