Amnesty: Bukti Tunjukkan Pasukan Rusia Lakukan Kejahatan Perang di Dekat Kiev

Sabtu, 07 Mei 2022 - 19:30 WIB
loading...
Amnesty: Bukti Tunjukkan...
Amnesty: Bukti Tunjukkan Pasukan Rusia Lakukan Kejahatan Perang di Dekat Kiev. FOTO/Reuters
A A A
KIEV - Amnesty International mengatakan pada Jumat (6/5/2022), ada bukti kuat bahwa pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang, termasuk eksekusi di luar hukum terhadap warga sipil ketika mereka menduduki sebuah daerah di luar ibukota Ukraina pada bulan Februari dan Maret.

“Warga sipil juga mengalami pelanggaran seperti "penembakan dan penyiksaan sembrono" di tangan pasukan Rusia selama serangan gagal mereka di Kiev pada tahap awal invasi yang diluncurkan oleh Kremlin pada 24 Februari,” kata kelompok hak asasi itu dalam sebuah laporan, seperti dikutip dari Reuters.

Baca: 500 Warga Sipil Telah Dievakuasi dari Mariupol

"Ini bukan insiden yang terisolasi. Ini adalah bagian dari pola di mana pasukan Rusia mengendalikan sebuah kota atau desa," jelas Donatella Rovera, penasihat senior tanggap krisis Amnesty, mengatakan pada konferensi pers di Kiev.

Menurutnya, informasi yang dikumpulkan oleh kelompok itu dapat digunakan untuk meminta pertanggungjawaban pelaku. “Jika tidak hari ini, suatu hari nanti,” katanya.

Rusia, yang menyebut invasinya sebagai "operasi khusus" untuk melucuti senjata Ukraina dan melindunginya dari fasis, menyangkal pasukannya melakukan pelanggaran. Kiev dan pendukung Baratnya mengatakan, klaim fasisme adalah dalih palsu untuk perang agresi yang tidak beralasan.

Baca: AS Beri Informasi Intelijen Sebelum Ukraina Tenggelamkan Kapal Perang Rusia

Pihak berwenang Ukraina mengatakan, mereka sedang menyelidiki lebih dari 9.000 potensi kejahatan perang oleh pasukan Rusia. Pengadilan Kriminal Internasional juga sedang menyelidiki dugaan kejahatan perang.

Laporan Amnesty adalah yang terbaru untuk mendokumentasikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Rusia ketika mereka menduduki daerah barat laut Kiev, termasuk kota Bucha, di mana pihak berwenang Ukraina mengatakan lebih dari 400 warga sipil tewas Moskow menarik pasukannya pada awal April.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pasukan Rusia telah melakukan "sejumlah kejahatan perang yang nyata" di Bucha, termasuk "banyak pembunuhan di luar hukum", kebanyakan dari mereka di dekat persimpangan jalan Yablunska dan Vodoprovidna.

Baca: Zelensky: Invasi Rusia Hancurkan Hampir 400 Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan

Penyelidikan Reuters yang diterbitkan pada hari Kamis mendokumentasikan petunjuk, termasuk kesaksian dan bukti yang difokuskan di Jalan Yablunska, untuk identitas individu tentara Rusia dan unit militer yang hadir di Bucha.

Rovera mengatakan, dia mengumpulkan di Bucha peluru penusuk lapis baja dan selongsong peluru yang diproduksi di sebuah pabrik di Tula, selatan Moskow, untuk senapan yang hanya digunakan oleh unit elit angkatan udara Rusia yang kehadirannya di Bucha Amnesty telah dikonfirmasi.

"Kami juga menemukan dan dapat melihat beberapa dokumen militer yang menunjukkan keberadaan unit khusus ini di tempat-tempat di mana kejahatan ini dilakukan," katanya.

(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Delegasi Iran Berangkat...
Delegasi Iran Berangkat ke Swiss Negosiasi dengan AS, Perang Bakal Berakhir?
Siap-Siap, Apple bakal...
Siap-Siap, Apple bakal Naikkan Harga iPhone Dkk Imbas Biaya Chip Melonjak
Rekomendasi
Spesial, Investor Patriot...
Spesial, Investor Patriot Bond Dilindungi dari Tuntutan Pidana hingga Pajak
3.761 Personel Dikerahkan...
3.761 Personel Dikerahkan Amankan Aksi Unjuk Rasa di 2 Lokasi di Jakarta Hari Ini
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Berita Terkini
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Trump Ancam Serang Iran...
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
4 Prasyarat Iran untuk...
4 Prasyarat Iran untuk Negosiasi di Swiss, Dapat Dana Segar Rp106 Triliun
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved