Terungkap, Trump Ingin Mengebom Laboratorium Narkoba di Meksiko
Jum'at, 06 Mei 2022 - 17:39 WIB
loading...
Mantan Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat bertanya tentang kemungkinan membom laboratorium perdagangan narkoba di Meksiko. Foto/CBS News
A
A
A
WASHINGTON - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat bertanya tentang kemungkinan membom laboratorium perdagangan narkoba di Meksiko saat ia masih berada di Gedung Putih.
Hal itu diungkapkan mantan menteri pertahanan AS era Trump, Mark Esper, dalam sebuah buku yang akan dirilis Selasa yang akan datang.
Menurut kutipan yang dikutip oleh New York Times, Trump percaya Amerika Serikat dapat berpura-pura tidak bertanggung jawab atas peluncuran rudal melintasi perbatasan selatannya, tulis Esper, yang merupakan kepala Pentagon antara Juli 2019 dan November 2020.
Baca juga: Trump: Putin Tidak Menghormati Kepemimpinan Amerika Lagi
"Pada tahun 2020, Trump dilaporkan bertanya dua kali apakah militer dapat menembak rudal ke Meksiko untuk menghancurkan laboratorium obat-obatan," tulis Esper dalam bukunya yang berjudul A Sacred Oath seperti dilansir dari France24, Jumat (6/5/2022).
Menurut New York Times, Esper dibiarkan tidak bisa berkata-kata atas permintaan Trump tersebut.
Trump memecat Esper pada November 2020, hanya beberapa hari setelah hasil pemilihan presiden AS diumumkan, di mana Presiden Joe Biden menang.
Hal itu diungkapkan mantan menteri pertahanan AS era Trump, Mark Esper, dalam sebuah buku yang akan dirilis Selasa yang akan datang.
Menurut kutipan yang dikutip oleh New York Times, Trump percaya Amerika Serikat dapat berpura-pura tidak bertanggung jawab atas peluncuran rudal melintasi perbatasan selatannya, tulis Esper, yang merupakan kepala Pentagon antara Juli 2019 dan November 2020.
Baca juga: Trump: Putin Tidak Menghormati Kepemimpinan Amerika Lagi
"Pada tahun 2020, Trump dilaporkan bertanya dua kali apakah militer dapat menembak rudal ke Meksiko untuk menghancurkan laboratorium obat-obatan," tulis Esper dalam bukunya yang berjudul A Sacred Oath seperti dilansir dari France24, Jumat (6/5/2022).
Menurut New York Times, Esper dibiarkan tidak bisa berkata-kata atas permintaan Trump tersebut.
Trump memecat Esper pada November 2020, hanya beberapa hari setelah hasil pemilihan presiden AS diumumkan, di mana Presiden Joe Biden menang.
Lihat Juga :