Ini 2 Presiden di Timur Tengah Yang Dibunuh Pasukan NATO dan Sekutunya, Nomor 2 Dituduh Diktator Kejam

Sabtu, 30 April 2022 - 15:55 WIB
loading...
A A A
Hal ini dibuktikan dari survei PBB dalam Human Development Index pada tahun 2011. Libya memiliki tingkat literasi hingga 88,4% dimana sebelum era Gaddafi, tingkat literasi rakyat Libya hanya 6%. Angka harapan hidup di Libya juga mencapai 74,5 tahun yang menjadi salah satu yang tertinggi di Afrika.

Gaddafi juga menjadikan penghasilan dari minyak Libya digunakan untuk kesejahteraan rakyat Libya. Sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga sektor listrik mendapatkan subsidi gratis dari Gaddafi.

Baca: Perbandingan Kondisi Libya Era Gaddafi dan Setelah Dia Tewas Saat Invasi NATO

Dengan dukungan media mainstream Barat dan negara sekutu NATO, NATO dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer “Responsibility to Protect” yang berdalih ingin menumbangkan presiden Libya, Muammaf Gaddafi yang dituduh sebagai diktator kejam untuk rakyat Libya.

Muammaf Gaddafi akhirnya diserang oleh pasukan NATO dan pasukan pembelot Libya yang tidak ingin kekuasaan Gaddafi berlanjut. Misi diawali dengan pengeboman di Libya di bulan Maret dan Oktober 2011 yang diakhiri dengan invasi pasukan NATO dan sekutunya ke dalam Libya.

Setelah Muammaf Gaddafi terbunuh di tahun 2012, negara NATO dan sekutunya memperebutkan ladang minyak Libya yang sangat menggiurkan. Perebutan lahan minyak juga terjadi dengan pembelot lokal Libya yang merasa juga punya jasa dalam menggulingkan Gaddafi.

Hingga kini, Libya masih belum bangkit dari kseulitan ekonomi semenjak ditinggal Gaddafi dibunuh pasukan NATO dan sekutunya. Subsidi gratis di berbagai sektor yang di masa kepemimpinan Muammaf Gaddafi dirasakan seluruh rakyat Libya praktis tidak dirasakan lagi.

Libya masih sering dilanda perang antar suku di dalam Libya sendiri. Hal inilah yang membuat stabilitas politik di dalamnya kurang stabil dibandingkan di era Muammaf Gaddafi.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Dominasi Pizza Hut Memudar...
Dominasi Pizza Hut Memudar hingga Dilego Pemilik Rp47,8 Triliun
Rekomendasi
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Ronaldo Mandul, Portugal...
Ronaldo Mandul, Portugal Ditahan Imbang RD Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berita Terkini
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Langka, Trump Bela Hak...
Langka, Trump Bela Hak Iran Memiliki Rudal Balistik
Serangan Israel ke Lebanon...
Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
Infografis
5 Pesepak Bola Dunia...
5 Pesepak Bola Dunia yang Tetap Puasa di Tengah Kompetisi Padat Ramadan 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved