Diremehkan Gabung Uni Eropa, Ukraina Marah pada Austria
Senin, 25 April 2022 - 11:26 WIB
loading...
Bendera nasional negara-negara Uni Eropa. Ukraina marah setelah Austria meremehkannya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Foto/Julien Warnand/Pool via REUTERS
A
A
A
KIEV - Pemerintah Ukraina marah pada Austria setelah diremehkan untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE). Wina menyebut bergabung dengan UE bukan pilihan terbaik bagi Kiev.
Komentar Austria itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Alexander Schallenberg. Ukraina kecewa dengan pernyataan itu yang dinilai berpandangan sempit.
Pada hari Sabtu, Schallenberg, sementara mengakui bahwa memperdalam hubungan dengan Ukraina diperlukan karena UE mengekspor "cara hidup" Barat, mengatakan bahwa model selain keanggotaan penuh UE harus dipertimbangkan untuk Ukraina.
Dia menyebut bergabung dengan European Economic Area atau perjanjian asosiasi sebagai salah satu opsi.
Menanggapi komentar ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina Oleg Nikolenko mengeluarkan pernyataan keras pada hari Minggu.
“Kami kecewa dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Federal Austria tentang masa depan Eropa di Ukraina. Kami menganggap mereka berpandangan sempit secara strategis dan tidak demi kepentingan Eropa yang bersatu," kata Nikolenko, seperti dikutip Russia Today, Senin (25/4/2022).
Komentar Austria itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Alexander Schallenberg. Ukraina kecewa dengan pernyataan itu yang dinilai berpandangan sempit.
Pada hari Sabtu, Schallenberg, sementara mengakui bahwa memperdalam hubungan dengan Ukraina diperlukan karena UE mengekspor "cara hidup" Barat, mengatakan bahwa model selain keanggotaan penuh UE harus dipertimbangkan untuk Ukraina.
Dia menyebut bergabung dengan European Economic Area atau perjanjian asosiasi sebagai salah satu opsi.
Menanggapi komentar ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina Oleg Nikolenko mengeluarkan pernyataan keras pada hari Minggu.
“Kami kecewa dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Federal Austria tentang masa depan Eropa di Ukraina. Kami menganggap mereka berpandangan sempit secara strategis dan tidak demi kepentingan Eropa yang bersatu," kata Nikolenko, seperti dikutip Russia Today, Senin (25/4/2022).
Lihat Juga :