Sebut Barbar, Rusia Tuduh Ukraina Serang Stasiun Kereta Kramatorsk
Sabtu, 09 April 2022 - 11:03 WIB
loading...
A
A
A
Negara-negara Barat tertentu telah menjanjikan lebih banyak dukungan militer ke Ukraina setelah serangan Kramatorsk. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pada hari Jumat bahwa London akan mengirim Ukraina bantuan militer tambahan senilai USD130 juta, termasuk lebih banyak rudal anti-pesawat Starstreak dan 800 rudal anti-tank.
"Serangan itu menunjukkan kedalaman di mana tentara kebanggaan Putin telah tenggelam," kata Johnson pada konferensi pers setelah bertemu dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz di London.
Baca juga: Zelensky Sebut Serangan di Stasiun Kereta Kramatorsk Kejahatan Perang
“Ini adalah kejahatan perang tanpa pandang bulu menyerang warga sipil, dan kejahatan Rusia di Ukraina tidak akan luput dari perhatian atau tidak dihukum,” tambahnya, tanpa memberikan atau mengutip bukti apa pun.
Moskow melancarkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada tahun 2014, dan akhirnya Rusia memberi pengakuan atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk. Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan aliansi militer NATO yang dipimpin AS. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali dua wilayah pemberontak dengan paksa.
"Serangan itu menunjukkan kedalaman di mana tentara kebanggaan Putin telah tenggelam," kata Johnson pada konferensi pers setelah bertemu dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz di London.
Baca juga: Zelensky Sebut Serangan di Stasiun Kereta Kramatorsk Kejahatan Perang
“Ini adalah kejahatan perang tanpa pandang bulu menyerang warga sipil, dan kejahatan Rusia di Ukraina tidak akan luput dari perhatian atau tidak dihukum,” tambahnya, tanpa memberikan atau mengutip bukti apa pun.
Moskow melancarkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada tahun 2014, dan akhirnya Rusia memberi pengakuan atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk. Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan aliansi militer NATO yang dipimpin AS. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali dua wilayah pemberontak dengan paksa.
(ian)
Lihat Juga :