Ukraina Serukan Georgia Buka Front Kedua Serang Rusia

Senin, 28 Maret 2022 - 14:16 WIB
loading...
Ukraina Serukan Georgia...
Fasilitas penyimpanan bahan bakar di Lviv, Ukraina, dihantam rudal jelajah Rusia. Ukraina serukan Georgia membuka front kedua melawan Rusia. Foto/Layanan Pers Dinas Darurat Negara Ukraina/REUTERS
A A A
KYIV - Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Alexey Danilov menyerukan Georgia membuka "front kedua" melawan Rusia . Namun, negara yang pernah perang dengan Moskow tahun 2008 itu menolak seruan tersebut.

Danilov mengatakan bahwa jika konflik baru pecah antara Rusia dan pihak ketiga, ini akan memberikan dukungan berkualitas ke Ukraina yang mencoba menangkis invasi yang sedang berlangsung.

"Georgia bisa menjadi salah satu pihak yang mencoba menyerang Rusia saat sedang sibuk di Ukraina," saran Danilov, mengkritik sikap netral yang diambil oleh Tbilisi.

Kepemimpinan Georgia telah abstain dari menjatuhkan sanksi anti-Rusia, dengan alasan bahwa langkah seperti itu hanya akan merugikan ekonomi negara itu sendiri.

“Georgia berperilaku tidak tepat, secara halus,” kata Danilov, menyerukannya untuk mencoba dan “mengembalikan” wilayahnya.
Danilov tampaknya merujuk pada republik-republik Ossetia Selatan dan Abkhazia yang memisahkan diri, yang memisahkan diri dari Georgia pada 1990-an dan diakui merdeka oleh Rusia setelah perang singkat 2008.

Baca juga: Ukraina Siap Penuhi Syarat Utama untuk Akhiri Perang dengan Rusia

“Tetapi, bagaimana jika Pridnestrovie, dan Georgia, dan semua orang akan memulai untuk mengembalikan wilayah mereka hari ini?” tanya Danilov, merujuk pada wilayah Moldova yang memisahkan diri, di mana pasukan penjaga perdamaian Rusia telah ditempatkan selama beberapa dekade.

“Ini pasti akan membantu kami, karena itu akan membuat mereka sibuk dengan sesuatu selain menghancurkan kota dan desa kami, membunuh anak-anak dan wanita kami.”

Namun, seruan Danilov yang mengobarkan perang itu mendapat sambutan dingin di Georgia, di mana banyak politisi dengan tegas menolak gagasan semacam itu.

Seorang anggota Parlemen dari Georgian Dream Party [Partai Impian Georgia] yang berkuasa dan kepala komite urusan luar negeri Parlemen, Nikoloz Samharadze, menyatakan keraguan bahwa pernyataan seperti itu dapat dibuat oleh pejabat senior Ukraina.

“Saya harap ini bohong. Apakah Sekretaris Dewan Keamanan Ukraina meminta Georgia dan lainnya untuk meninggalkan kebijakan pemulihan damai integritas teritorial mereka, membuka front kedua untuk menghancurkan kota dan desa kami, sehingga perempuan dan anak-anak Georgia juga mati? Apakah ini benar?" tanya Samkharadze, yang tulisannya diunggah di media sosial.

Sentimen serupa diungkapkan oleh anggota Parlemen lain dari Partai Impian Georgia, Mikhail Sardzhveladze, yang mengatakan bahwa memicu lebih banyak konflik tidak akan membantu atau melegakan Ukraina.

Danilov juga menyetujui gagasan untuk mengEklaim wilayah Kaliningrad dari Rusia, yang disuarakan awal pekan ini oleh mantan komandan Angkatan Darat Polandia, Jenderal Waldemar Skrzypczak.

Sang jenderal mengEklaim bahwa wilayah bersejarah Jerman, yang berakhir di bawah kekuasaan Rusia setelah kekalahan Nazi Jerman, sebenarnya adalah tanah Polandia.

Pernyataan tersebut mendapat kecaman luas di Rusia, di mana gubernur wilayah tersebut, Anton Alikhanov, memperingatkan jenderal Polandia itu bahwa negaranya tidak boleh mengajukan klaim teritorial.

"Mengingat sebagian besar tanah yang sekarang menjadi Polandia, pada kenyataannya, adalah ditaklukkan, diklaim dari Nazi Jerman dan ditransfer sebagai hadiah dari Soviet kepada rakyat Polandia," ujarnya, seperti dikutip Russia Today, Senin (28/3/2022).
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
Perlombaan Senjata Nuklir...
Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan
Inggris Makin Tak Berdaya!...
Inggris Makin Tak Berdaya! Seluruh Armada Kapal Selam Serang Tak Bisa Beroperasi
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Laporan Media: Israel...
Laporan Media: Israel Bangun Jaringan Militer Rahasia di Azerbaijan, Dekat Perbatasan Iran
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Serukan Duduki Lebanon, Tangkapi Perempuan dan Anak-Anak
Rekomendasi
Hong Kong Bongkar Sindikat...
Hong Kong Bongkar Sindikat Merchandise Piala Dunia Palsu Senilai Rp359 Miliar
Diperiksa Terkait Kasus...
Diperiksa Terkait Kasus Hanania Group, Praz Teguh Akui Sudah Kembalikan Uang Saku
ADIGSI dan Crest Kerja...
ADIGSI dan Crest Kerja Sama Pengembangan Keamanan Siber Nasional
Berita Terkini
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved