Ketakutan dengan Invasi Rusia ke Ukraina, Eropa Jadi Hotspot Impor Senjata
Senin, 14 Maret 2022 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan bahwa mayoritas kemungkinan akan datang dari sesama negara Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Negara-negara Eropa yang ketakutan dengan invasi Rusia ke Ukraina diperkirakan mulai memperkuat militer mereka dengan jet tempur, seperti F-35 Amerika, rudal, artileri dan senjata berat lainnya.
Peneliti itu mengatakan tren kenaikan impor senjata sebenarnya dimulai setelah pencaplokan Crimea oleh Rusia pada 2014, dengan efek yang terlihat sekarang.
Sifat tidak jelas dari banyak kontrak dan sumbangan senjata tanpa pembayaran membuat sulit untuk memberikan angka pasti untuk perdagangan senjata dunia tetapi para ahli memperkirakan omzet mendekati USD100 miliar (91 miliar euro) per tahun.
Sementara impor senjata ke wilayah terpadat di dunia menurun sekitar lima persen selama lima tahun terakhir, Asia Timur dan Oseania secara khusus mengalami pertumbuhan yang kuat, dengan masing-masing 20 dan 59 persen.
"Harga minyak saat ini berarti mereka akan memiliki banyak pendapatan dan itu biasanya berarti pesanan senjata dalam jumlah besar," ujar Wezeman, seperti dikutip AFP.
Dalam hal angka negara masing-masing, India dan Arab Saudi berbagi tempat teratas sebagai importir terbesar, masing-masing menyumbang 11 persen, di depan Mesir (5,7 persen), Australia (5,4 persen) dan China (4,8 persen).
Negara-negara Eropa yang ketakutan dengan invasi Rusia ke Ukraina diperkirakan mulai memperkuat militer mereka dengan jet tempur, seperti F-35 Amerika, rudal, artileri dan senjata berat lainnya.
Peneliti itu mengatakan tren kenaikan impor senjata sebenarnya dimulai setelah pencaplokan Crimea oleh Rusia pada 2014, dengan efek yang terlihat sekarang.
Sifat tidak jelas dari banyak kontrak dan sumbangan senjata tanpa pembayaran membuat sulit untuk memberikan angka pasti untuk perdagangan senjata dunia tetapi para ahli memperkirakan omzet mendekati USD100 miliar (91 miliar euro) per tahun.
Sementara impor senjata ke wilayah terpadat di dunia menurun sekitar lima persen selama lima tahun terakhir, Asia Timur dan Oseania secara khusus mengalami pertumbuhan yang kuat, dengan masing-masing 20 dan 59 persen.
"Harga minyak saat ini berarti mereka akan memiliki banyak pendapatan dan itu biasanya berarti pesanan senjata dalam jumlah besar," ujar Wezeman, seperti dikutip AFP.
Dalam hal angka negara masing-masing, India dan Arab Saudi berbagi tempat teratas sebagai importir terbesar, masing-masing menyumbang 11 persen, di depan Mesir (5,7 persen), Australia (5,4 persen) dan China (4,8 persen).
Lihat Juga :