Senator AS Serukan Bunuh Putin Picu Kecaman, Bisa Picu Perang Dunia III

Sabtu, 05 Maret 2022 - 11:46 WIB
loading...
Senator AS Serukan Bunuh...
Senator AS Lindsey Graham menuai kecaman setelah menyerukan pembunuhan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk akhiri perang di Ukraina. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham menuai kecaman dari para politisi Amerika setelah menyerukan pembunuhan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina. Seruan seperti itu dikhawatirkan akan memicu Perang Dunia (PD) III.

Graham mengeklaim satu-satunya cara untuk mengakhiri invasi di Ukraina adalah dengan membunuh Presiden Putin.

Senator Partai Republik itu pada Kamis menyebut pembunuhan diktator Romawi Julius Caesar dan rencana yang gagal untuk membunuh pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler sebagai contoh dari apa yang harus dilakukan.

Pada hari Jumat dia menggandakan retorikanya yang mengancam, mengatakan kepada Fox News bahwa Rusia harus bangkit dan menjatuhkan Putin.

"Ini adalah ide yang sangat buruk," tulis senator asal Texas, Ted Cruz, di Twitter.

“Gunakan sanksi ekonomi besar-besaran; boikot minyak dan gas Rusia; dan memberikan bantuan militer sehingga Ukraina dapat mempertahankan diri," lanjut Cruz.

"Tapi kita seharusnya tidak menyerukan pembunuhan kepala negara," kecam Cruz.

Baca juga: Perang Memanas, Senator AS Serukan Rusia Bunuh Putin

Anggota Parlemen AS dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, juga mengecam seruan Senator Graham. “Serius, wtf?,” tulis Omar di Twitter.

Omar khawatir seruan berbahaya itu bisa memantik Perang Dunia III.

“Saya benar-benar berharap anggota Kongres kami akan mendinginkannya dan mengatur pernyataan mereka saat pemerintah bekerja untuk menghindari Perang Dunia III," lanjut Omar.

"Ketika dunia memperhatikan bagaimana AS dan para pemimpinnya merespons, pernyataan Lindsey, dan pernyataan yang dibuat oleh beberapa anggota Parlemen, tidak membantu."

"Sementara kita semua berdoa untuk perdamaian dan untuk rakyat Ukraina, ini tidak bertanggung jawab, berbahaya," tulis anggota Parlemen, Marjorie Taylor Greene di Twitter.

"Kita membutuhkan pemimpin dengan pikiran yang tenang dan kebijaksanaan yang mantap. Bukan politisi penghasut perang yang haus darah yang mencoba mencuit keras dengan menuntut pembunuhan. Amerika tidak menginginkan perang," lanjut dia, yang dikutip dari akun Twitter-nya, @RepMTG, Sabtu (5/3/2022).

Gedung Putih juga menjauhkan diri dari pernyataan Graham. Juru bicaranya, Jen Psaki, mengatakan pada hari Jumat; “Itu bukan posisi pemerintah Amerika Serikat dan tentu saja bukan pernyataan yang akan Anda dengar dari mulut siapa pun yang bekerja di pemerintahan ini.”

"Kami tidak menganjurkan untuk membunuh pemimpin negara asing atau perubahan rezim. Itu bukan kebijakan Amerika Serikat," kata Psaki.

Seruan terbuka untuk pembunuhan presiden Rusia memicu kemarahan di Moskow, di mana Kedutaan Besar Rusia di AS mengecam keras pernyataan Graham, serta menuntut Washington meminta pertanggungjawaban pejabat tersebut atas pernyataannya.

“Sulit dipercaya bahwa seorang senator dari negara yang mengajarkan nilai-nilai moralnya sebagai 'cahaya penuntun' bagi seluruh umat manusia dapat membiarkan dirinya menyerukan terorisme sebagai sarana untuk mencapai tujuan Washington di panggung internasional,” kata Duta Besar Rusia di AS, Anatoly Antonov.

"Graham telah dibuat gila oleh ketegangan yang sedang berlangsung antara Moskow dan Barat," imbuh juru bicara Kremlin Dmitry Peskov."Tidak semua orang bisa tetap berkepala dingin akhir-akhir ini, beberapa [orang] kehilangan akal sehat mereka.”

Moskow mempertahankan serangan militernya di Ukraina dengan alasan operasi khusus yang ditujukan untuk "demiliterisasi" dan "denazifikasi" Ukraina atas nama melindungi rakyat dari dua republik Donbass yang baru-baru ini diakui Rusia.

Namun, Kiev mengatakan serangan Moskow tidak beralasan, bersikeras bahwa mereka tidak berusaha untuk merebut kembali Donetsk dan Luhansk dengan paksa.

Kedua republik di Donbass itu memisahkan diri dari Ukraina pada tahun 2014 setelah kudeta Maidan, yang menggulingkan pemerintah Ukraina yang pro-Rusia.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Semua yang Diinginkan AS Selama Negosiasi
Israel Ternyata Coba...
Israel Ternyata Coba Habisi 2 Negosiator Utama Iran, Ini yang Dilakukan AS
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jerman Berani Menolak...
Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
Serangan Rudal Gila-gilaan...
Serangan Rudal Gila-gilaan Rusia Gempur Ibu Kota Ukraina, 27 Orang Tewas
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Studi Ungkap Gurita...
Studi Ungkap Gurita Politik China dalam Jaringan Kriminal di Asia Tenggara
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Seluruh Tuntutan AS untuk Berdamai
Rekomendasi
MUI Susun Naskah Akademik...
MUI Susun Naskah Akademik RUU Pidana LGBT, Gus Ipul: Patut Ditindaklanjuti
PAN Tak Beri Bantuan...
PAN Tak Beri Bantuan Hukum ke Bupati Langkat yang Kena OTT KPK, Viva Yoga: Tanggung Jawab Pribadi
Intip Kontribusi Vokasi...
Intip Kontribusi Vokasi Sampoerna Karya Bangsa untuk Cetak SDM Unggul
Berita Terkini
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Semua yang Diinginkan AS Selama Negosiasi
Israel Ternyata Coba...
Israel Ternyata Coba Habisi 2 Negosiator Utama Iran, Ini yang Dilakukan AS
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jadi Anak Presiden dan...
Jadi Anak Presiden dan Jabat Panglima Militer, Jenderal Ini Seenaknya Menutup Media
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved