Stok Rudal Patriot Menipis, Arab Saudi Minta Bantuan Negara Tetangga

Minggu, 09 Januari 2022 - 21:34 WIB
loading...
Stok Rudal Patriot Menipis,...
Stok rudal Patriot menipis di tengah meningkatnya serangan Houthi, Arab Saudi minta bantuan negara tetangga. Foto/Defence Talk
A A A
RIYADH - Arab Saudi telah meminta bantuan negara-negara tetangga untuk mengisi persediaan rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat (AS) yang menipis di tengah meningkatnya serangan roket dan drone dari Houthi .

Kerajaan di Teluk Arab itu mendapatkan sebagain besar senjatanya dari AS. Namun belakangan kemampuan untuk membeli senjata dari AS diperumit karena perilaku Arab Saudi dalam dalam perang di Yaman.

Selain itu ada kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia di bahwa kepemimpinan Pangeran Mohammad bin Salman. Ini dipicu oleh keterlibatan Arab Saudi dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 lalu.



"Ada kekurangan (rudal) pencegat. Arab Saudi telah meminta pinjaman kepada negara-negara sahabat tetapi tidak banyak yang bisa di dapat," ujar seorang pejabat AS yang mengetahui pembicaraan Arab Saudi dan negara tetangganya, seperti dilansir dari Financial Times, Minggu (9/1/2022).

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan Iran dan mengendalikan Yaman utara, meningkatkan serangan mereka ke Arab Saudi selama tahun lalu. Mereka meluncurkan 375 serangan lintas perbatasan terhadap Arab Saudi, banyak di antaranya menargetkan infrastruktur minya, bandara dan kota.

“Menanggapi serangan-serangan itu menggunakan pencegat semacam itu berarti mereka akan memiliki tingkat pembakaran yang lebih cepat daripada yang mereka perkirakan sebelumnya,” kata pejabat itu.

“Itu adalah sesuatu yang harus kita tangani dan jawabannya bukan hanya lebih banyak pencegat, tetapi jawaban untuk itu pada akhirnya adalah solusi diplomatik untuk krisis di Yaman,” imbuhnya.

Baca juga: Koalisi Arab Marah Houthi Membajak Kapal Berbendera Uni Emirat Arab

Sistem pertahanan Arab Saudi mengeluarkan sebagian besar proyektil. Tetapi, menurut juru bicara pertahanan Saudi Turk al-Maliki, 59 warga sipil telah tewas sejak Riyadh melancarkan perangnya melawan Houthi tujuh tahun lalu.

Dia mengatakan kerajaan menghargai kemitraannya yang kuat dan solid dengan AS.

“Kerja sama militer kami sedang berlangsung dan kami akan terus bekerja sama dengan mitra AS kami dalam menghadapi ancaman rudal balistik lintas batas, roket, dan UAV (drone),” katanya.

Seorang pejabat senior AS mengatakkan pemerintahan Presiden Joe Biden mendukung langkah untuk mendapatkan rudal dari negara Teluk lainnya di tengah kekhawatiran bahwa stok rudal Patriot Riyadh habis dalam hitungan bulan mengingat tingkat serangan yang dilakukan oleh Houthi.

Baca juga: Raja Salman: Tindakan Destabilisasi Iran Jadi Perhatian Besar Arab Saudi

Menurutnya AS harus memberi lampu hijau peminjaman sistem rudal pencegat itu.

"Ini situasi mendesak," kata pejabat itu.

"Ada tempat lain di Teluk yang bisa mereka dapatkan dan kami sedang berusaha untuk itu. Ini mungkin alternatif yang lebih cepat (untuk penjualan senjata AS)," imbuhnya.

Arab Saudi telah memerangi Houthi sejak memimpin koalisi Arab melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman pada 2015 setelah kelompok pemberontak itu menggulingkan pemerintah Yaman dan merebut Ibu Kota Sana'a.

Intervensi Riyadh didukung oleh AS dan Inggris, tetapi perilaku perangnya menuai kritik luas dan memicu tekanan pada pemerintah AS untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi karena ribuan warga sipil Yaman tewas dalam serangan udara pasukan koalisi, termasuk ratusan anak-anak.

Baca juga: Balas Kematian 2 Orang, Koalisi Arab Saudi Serang Yaman Besar-besaran
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.450 Orang Tewas, 774 Gedung Ambruk
Rekomendasi
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR Setujui 7 Anggota Komisi Informasi Pusat 2026-2030, Ini Daftarnya
Latihan Menembak Dihapus...
Latihan Menembak Dihapus dari Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Puan: Sebaiknya Fokus Manajerial Saja
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Berita Terkini
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Infografis
Head to Head Timnas...
Head to Head Timnas Indonesia vs Arab Saudi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved