Uskup Sisilia Beri Tahu Anak-anak Sinterklas Tidak Ada, Orang Tua Protes
Sabtu, 11 Desember 2021 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
“Jika Santa adalah Santo Nicholas, anak-anak akan lebih terbuka pada ide untuk saling membantu, pada ide solidaritas yang berasal dari pemberian hadiah kepada anak-anak yang lebih miskin,” papar dia.
Khotbahnya, menurut dia, adalah cara menjelaskan teologi pop dan memulihkan makna sejati dari tradisi Kristen Natal.
Santo Nicholas, yang hidup di Turki modern pada abad ketiga, mengilhami beberapa tradisi yang sekarang dikaitkan dengan Sinterklas.
Dia disebut melemparkan koin ke jendela rumah-rumah keluarga miskin, dan secara anonim membagikan makanan kepada yang lapar.
Legendanya kemudian mengilhami tradisi Sinterklaas dari Belanda yang kemudian menjadi Santa Claus di Inggris yang digambarkan mengenakan berbagai pakaian sampai Coca-Cola mempopulerkan pakaian merah putihnya pada tahun 1930-an.
Khotbahnya, menurut dia, adalah cara menjelaskan teologi pop dan memulihkan makna sejati dari tradisi Kristen Natal.
Santo Nicholas, yang hidup di Turki modern pada abad ketiga, mengilhami beberapa tradisi yang sekarang dikaitkan dengan Sinterklas.
Dia disebut melemparkan koin ke jendela rumah-rumah keluarga miskin, dan secara anonim membagikan makanan kepada yang lapar.
Legendanya kemudian mengilhami tradisi Sinterklaas dari Belanda yang kemudian menjadi Santa Claus di Inggris yang digambarkan mengenakan berbagai pakaian sampai Coca-Cola mempopulerkan pakaian merah putihnya pada tahun 1930-an.
(sya)
Lihat Juga :