Sejarah Wahhabi di Arab Saudi yang Kini Didobrak Pangeran Mohammed bin Salman
Sabtu, 27 November 2021 - 00:00 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, pengeras suara masjid hanya boleh untuk menyiarkan azan,iqamat dan khotbah salat yang penting dengan alasan kekhawatiran akan polusi suara.
Di negara yang memiliki puluhan ribu masjid, langkah tersebut memicu reaksi online, di mana tanda pagar "Kami menuntut kembalinya pengeras masjid" bermunculan di media sosial dan mendapatkan daya tarik.
Suara-suara publik di media sosial juga menyerukan pelarangan musik keras di restoran, yang dulu tabu di kerajaan tetapi sekarang umum di tengah upaya liberalisasi.
Tetapi pihak berwenang tidak mungkin mengalah, karena reformasi ekonomi untuk era pasca-minyak lebih diutamakan daripada agama. Demikian pendapat para pengamat menyikapi reformasi ala Pangeran MBS.
"Negara ini membangun kembali fondasinya," kata Aziz Alghashian, dosen politik di Universitas Essex, kepada AFP.
"Ini menjadi negara yang didorong secara ekonomi yang menginvestasikan upaya substansial dalam mencoba tampil lebih menarik—atau kurang mengintimidasi—bagi investor dan wisatawan."
Era Pasca-Wahhabi
Dalam perubahan paling signifikan yang dimulai bahkan sebelum munculnya Pangeran Mohammed bin Salman, Arab Saudi mengebiri polisi agama yang dulu ditakuti, yang pernah mengusir orang keluar dari mal untuk pergi dan berdoa dan mencaci maki siapa pun yang terlihat bergaul dengan lawan jenis.
Di tempat yang dulunya tidak terpikirkan, beberapa toko dan restoran sekarang tetap buka selama salat lima waktu.
Ketika kekuatan ulama berkurang, para pengkhotbah mendukung keputusan pemerintah yang pernah mereka lawan dengan keras—termasuk mengizinkan perempuan mengemudi, pembukaan kembali bioskop dan penjangkauan kepada orang-orang Yahudi.
Arab Saudi merevisi buku pelajaran sekolah dengan menghapus referensi terkenal yang merendahkan komunitas non-Muslim dengan sebutan "babi" dan "kera".
Praktik agama non-Muslim tetap dilarang di kerajaan itu, tetapi penasihat pemerintah Ali Shihabi baru-baru ini mengatakan kepada media Amerika Serikat, Insider, bahwa mengizinkan sebuah gereja ada dalam "daftar tugas kepemimpinan".
Pihak berwenang telah secara terbuka mengesampingkan pencabutan larangan mutlak terhadap alkohol, yang dilarang dalam Islam. Tetapi berbagai sumber termasuk seorang diplomat yang berbasis di Teluk mengutip pejabat Saudi yang mengatakan dalam pertemuan tertutup bahwa "itu akan terjadi secara bertahap".
“Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Arab Saudi telah memasuki era pasca-Wahhabi, meskipun kontur agama yang tepat di negara ini masih berubah-ubah,” kata Kristin Diwan, dari Arab Gulf States Institute di Washington kepada AFP.
"Agama tidak lagi memiliki hak veto atas ekonomi, kehidupan sosial, dan kebijakan luar negeri," ujarnya.
Di negara yang memiliki puluhan ribu masjid, langkah tersebut memicu reaksi online, di mana tanda pagar "Kami menuntut kembalinya pengeras masjid" bermunculan di media sosial dan mendapatkan daya tarik.
Suara-suara publik di media sosial juga menyerukan pelarangan musik keras di restoran, yang dulu tabu di kerajaan tetapi sekarang umum di tengah upaya liberalisasi.
Tetapi pihak berwenang tidak mungkin mengalah, karena reformasi ekonomi untuk era pasca-minyak lebih diutamakan daripada agama. Demikian pendapat para pengamat menyikapi reformasi ala Pangeran MBS.
"Negara ini membangun kembali fondasinya," kata Aziz Alghashian, dosen politik di Universitas Essex, kepada AFP.
"Ini menjadi negara yang didorong secara ekonomi yang menginvestasikan upaya substansial dalam mencoba tampil lebih menarik—atau kurang mengintimidasi—bagi investor dan wisatawan."
Era Pasca-Wahhabi
Dalam perubahan paling signifikan yang dimulai bahkan sebelum munculnya Pangeran Mohammed bin Salman, Arab Saudi mengebiri polisi agama yang dulu ditakuti, yang pernah mengusir orang keluar dari mal untuk pergi dan berdoa dan mencaci maki siapa pun yang terlihat bergaul dengan lawan jenis.
Di tempat yang dulunya tidak terpikirkan, beberapa toko dan restoran sekarang tetap buka selama salat lima waktu.
Ketika kekuatan ulama berkurang, para pengkhotbah mendukung keputusan pemerintah yang pernah mereka lawan dengan keras—termasuk mengizinkan perempuan mengemudi, pembukaan kembali bioskop dan penjangkauan kepada orang-orang Yahudi.
Arab Saudi merevisi buku pelajaran sekolah dengan menghapus referensi terkenal yang merendahkan komunitas non-Muslim dengan sebutan "babi" dan "kera".
Praktik agama non-Muslim tetap dilarang di kerajaan itu, tetapi penasihat pemerintah Ali Shihabi baru-baru ini mengatakan kepada media Amerika Serikat, Insider, bahwa mengizinkan sebuah gereja ada dalam "daftar tugas kepemimpinan".
Pihak berwenang telah secara terbuka mengesampingkan pencabutan larangan mutlak terhadap alkohol, yang dilarang dalam Islam. Tetapi berbagai sumber termasuk seorang diplomat yang berbasis di Teluk mengutip pejabat Saudi yang mengatakan dalam pertemuan tertutup bahwa "itu akan terjadi secara bertahap".
“Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Arab Saudi telah memasuki era pasca-Wahhabi, meskipun kontur agama yang tepat di negara ini masih berubah-ubah,” kata Kristin Diwan, dari Arab Gulf States Institute di Washington kepada AFP.
"Agama tidak lagi memiliki hak veto atas ekonomi, kehidupan sosial, dan kebijakan luar negeri," ujarnya.
(min)
Lihat Juga :