Myanmar Dakwa Jurnalis AS Lakukan Penghasutan dan Terorisme, Terancam Bui Seumur Hidup

Kamis, 11 November 2021 - 05:30 WIB
loading...
Myanmar Dakwa Jurnalis...
Jurnalis Amerika Serikat, Danny Fenster yang ditahan Junta militer Myanmar. FOTO/DW
A A A
YANGON - Junta Myanmar telah mendakwa seorang jurnalis Amerika Serikat (AS), Danny Fenster (37) yang ditahan sejak Mei lalu dengan tuduhan penghasutan dan terorisme. Fenster terancam hukuman maksimal penjara seumur hidup .

“Fenster, yang ditangkap ketika dia mencoba meninggalkan negara itu pada Mei, didakwa di bawah undang-undang anti-teror dan penghasutan,” kata pengacaranya, Than Zaw Aung, seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (10/11/2021).

Baca: Penembak Gelap Gentayangan di Myanmar, Buru Aktivis dan Penentang Pemerintah

Hukuman di bawah undang-undang kontraterorisme membawa hukuman maksimal penjara seumur hidup. Sidang dijadwalkan akan dimulai pada 16 November. Fenster bekerja untuk outlet lokal Frontier Myanmar selama sekitar satu tahun dan sedang dalam perjalanan pulang untuk menemui keluarganya ketika dia ditahan.

Dia sudah diadili karena diduga mendorong perbedaan pendapat terhadap militer, asosiasi yang melanggar hukum dan melanggar hukum imigrasi, dan ditahan di penjara Insein Yangon. “Dia menjadi sangat kurus. Fenster "kecewa" karena dikenai dakwaan baru, yang diajukan pada Selasa,” tambah Zaw Aung.

Baca: Militer Myanmar Dituduh Gunakan Tahanan sebagai Perisai Hidup dalam Pertempuran

Keluarga Fenster datang beberapa hari setelah mantan diplomat AS dan perunding sandera, Bill Richardson bertemu dengan kepala junta Min Aung Hlaing di ibu kota Naypyidaw. Richardson sebelumnya telah merundingkan pembebasan tahanan dan prajurit AS di Korea Utara, Kuba, Irak dan Sudan. Baru-baru ini Ia berusaha untuk membebaskan narapidana yang berafiliasi dengan AS di Venezuela.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diduga Bantu Pemberontak...
Diduga Bantu Pemberontak Myanmar, India Tangkap Tentara Bayaran Ukraina dan AS
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pakar Militer Ini Sebut...
Pakar Militer Ini Sebut AS Tak Sadari Gelombang Kejut Besar di Asia
Jejak China dalam Konflik...
Jejak China dalam Konflik Myanmar: dari Ekspor Revolusi hingga Kartu Geopolitik
IATA Peringatkan Krisis...
IATA Peringatkan Krisis Avtur akan Terjang Asia Terlebih Dulu, Baru Eropa dan Amerika Latin
Junta Myanmar Makin...
Junta Myanmar Makin Kuat dengan Dukungan China, Oposisi Melemah
Viral Dua WNI Diduga...
Viral Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Polri Lakukan Koordinasi
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Meningkat Jadi 5.208 Orang, 16.740 Luka-Luka
Nah, Militer AS Tak...
Nah, Militer AS Tak Bisa Lindungi 50.000 Tentara di Timur Tengah dari Serangan Iran
Rekomendasi
Program Berkelanjutan...
Program Berkelanjutan Kesehatan Jangkau Lebih dari 16.500 Orang
Hadiri ASCN 2026, Safrizal...
Hadiri ASCN 2026, Safrizal Tegaskan Komitmen Indonesia Kembangkan Kota Cerdas
Bittime: Pasar Tokenisasi...
Bittime: Pasar Tokenisasi Aset RI Diramal Sentuh USD88 Miliar di 2030
Berita Terkini
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
Waspada! AS Rencanakan...
Waspada! AS Rencanakan Perang yang Lebih Luas dengan Iran
Saat Banyak Orang Bermigrasi...
Saat Banyak Orang Bermigrasi ke Berlin, tapi 288.000 Warga Jerman Justru Pilih Tinggalkan Negaranya
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Khalil al-Hayya Jadi...
Khalil al-Hayya Jadi Pemimpin Hamas, Perjuangan Gaza Makin Konfrontatif atau Pragmatis?
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved