Tsar Bomba Rusia, Bom Nuklir Terbesar Sejagat yang Bikin AS Keder

Senin, 01 November 2021 - 10:17 WIB
loading...
A A A
Pada bulan Juni 1963, Kennedy memaparkan visinya untuk perjanjian larangan uji parsial dengan Soviet yang akan membatasi pengujian nuklir ke situs bawah tanah.

“Saya sekarang menyatakan,” katanya dalam pidato di American University, “bahwa Amerika Serikat tidak mengusulkan untuk melakukan uji coba nuklir di atmosfer selama negara-negara lain tidak melakukannya.”

"Deklarasi ini bukanlah pengganti perjanjian yang mengikat secara formal, tetapi saya berharap itu akan membantu kita mencapainya," ujarnya.

Baca juga: Moskow Geram Kapal Perang AS Bersenjata Rudal Dekati Rusia

Itu benar. Sebuah perjanjian dengan Moskow dinegosiasikan dan diratifikasi oleh Senat AS. Pada 7 Oktober 1963, Kennedy menandatanganinya, sehingga perjanjian itu mulai berlaku. “Untuk pertama kalinya,” katanya, “kami berhasil mencapai kesepakatan yang dapat membatasi bahaya zaman ini.”

Empat puluh enam hari kemudian, peluru sniper mengakhiri era Kennedy. Tetapi penolakan global terhadap pengujian bom nuklir di atmosfer sebagian besar terjadi, menyerahkan ratusan ledakan nuklir ke bawah tanah.

Rusia tidak pernah melanggar perjanjian. Prancis dan China tidak pernah menandatangani, dan melakukan uji atmosfer terakhir mereka pada tahun 1974 dan 1980.

India, Pakistan, dan Korea Utara melakukan semua uji coba nuklir mereka di bawah tanah.

“Itu menjadi norma,” kata Dr Wellerstein tentang pendekatan bawah tanah. "Begitu juga hulu ledak yang lebih kecil.”

Jika calon era bom super sekarang dilupakan dan tidak dikenal, kata dia, penting untuk diingat sebagai pelajaran tentang betapa berbahayanya perlombaan senjata nuklir yang pernah mengancam.

“Tsar Bomba sudah mati,” kata Dr Wellerstein di ruang kerjanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ungkap Sabuk Keamanan...
Iran Ungkap Sabuk Keamanan Perlawanan Baru Membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab
AS Tidak Cegat Rudal...
AS Tidak Cegat Rudal Iran yang Ditembakkan ke Israel
Trump: 2 Minggu Lagi,...
Trump: 2 Minggu Lagi, AS Nyatakan Kemenangan Total atas Iran!
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz, Ditembak Iran?
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Terbitkan Surat Terbuka,...
Terbitkan Surat Terbuka, Zelensky Ajak Putin Bertemu untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Diteror Beruang, Kota...
Diteror Beruang, Kota di Jepang Ini Lumpuh
Rekomendasi
Confeti Love hingga...
Confeti Love hingga Moonlit Blush, Ini Makna di Balik Pendant Koleksi Baru Nagita Slavina x ISAGO
Kader PPP Segera Laporkan...
Kader PPP Segera Laporkan Taj Yasin, Agus Suparmanto, dan Thobahul Aftoni ke Polda Metro
Kuasa Hukum Roy Suryo...
Kuasa Hukum Roy Suryo Beberkan Konstruksi Laporan Terhadap Lechumanan dan Rismon
Berita Terkini
Mungkinkah Turki Serius...
Mungkinkah Turki Serius Hidupkan Kembali Kekuasaan Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem?
Hizbullah Puji Aksi...
Hizbullah Puji Aksi Iran dan Houthi Hadapi Israel untuk Bela Rakyat Lebanon
Jaksa ICC Karim Khan...
Jaksa ICC Karim Khan Diskors karena Tuduhan Pelanggaran Etika
Iran akan Bangun PLTN...
Iran akan Bangun PLTN di 5 Lokasi Pesisir
Iran Ungkap Sabuk Keamanan...
Iran Ungkap Sabuk Keamanan Perlawanan Baru Membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved