Anak 11 Tahun Hamil akibat Diperkosa Picu Perdebatan Aborsi di Bolivia
Sabtu, 30 Oktober 2021 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
“Gadis itu bahkan tidak tahu apa artinya hamil; dia memberi tahu sepupunya bahwa dia merasakan sesuatu bergerak di dalam perutnya. Sepupunya memberi tahu ibunya—bibi gadis itu—yang melaporkannya ke polisi,” kata Ana Paola García, direktur eksekutif La Casa de la Mujer, sebuah LSM hak-hak perempuan Bolivia, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (30/10/2021).
Korban dibawa ke rumah sakit Percy Boland Women di kota Santa Cruz, di mana korban secara hukum dinyatakan sebagai korban pemerkosaan di bawah umur, dia dijadwalkan menjalani aborsi pada Jumat lalu.
Menurut Garcia, sebuah keputusan konstitusional tahun 2014 membuat penghentian kehamilan menjadi legal dalam kasus pemerkosaan tanpa perlu mendapatkan perintah pengadilan.
Tetapi ibu anak itu, ditemani oleh seorang wanita yang mengaku sebagai pengacara gereja, turun tangan dengan mengatakan anak itu telah berubah pikiran.
Menurut García, korban dikeluarkan dari rumah sakit dan dibawa ke pusat perawatan ibu remaja.
“Ternyata ada manipulasi oleh Gereja Katolik yang praktis menculik gadis itu dan membungkam ibunya,” kata García. “Mereka melanggar hak asasinya.”
"Dia diwajibkan untuk melanjutkan kehamilan yang membahayakan nyawanya," imbuh dia.
Korban dibawa ke rumah sakit Percy Boland Women di kota Santa Cruz, di mana korban secara hukum dinyatakan sebagai korban pemerkosaan di bawah umur, dia dijadwalkan menjalani aborsi pada Jumat lalu.
Menurut Garcia, sebuah keputusan konstitusional tahun 2014 membuat penghentian kehamilan menjadi legal dalam kasus pemerkosaan tanpa perlu mendapatkan perintah pengadilan.
Tetapi ibu anak itu, ditemani oleh seorang wanita yang mengaku sebagai pengacara gereja, turun tangan dengan mengatakan anak itu telah berubah pikiran.
Menurut García, korban dikeluarkan dari rumah sakit dan dibawa ke pusat perawatan ibu remaja.
“Ternyata ada manipulasi oleh Gereja Katolik yang praktis menculik gadis itu dan membungkam ibunya,” kata García. “Mereka melanggar hak asasinya.”
"Dia diwajibkan untuk melanjutkan kehamilan yang membahayakan nyawanya," imbuh dia.
Lihat Juga :