Pakar: Tidak Hanya China, AS Juga Harus Buka Akses Biolabnya untuk Diselidiki
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
“Di sisi lain, AS tidak boleh dipaksa untuk memberi lampu hijau penyelidikan ke banyak pusat penelitian "pertahanan hayati" AS, termasuk Fort Detrick di Maryland, yang telah menjadi pusat penelitian senjata biologis Angkatan Darat AS,” sambungnya.
Baca: Benarkah Amerika Serikat Danai Rekayasa Covid-19 di Wuhan?
Disinggung soal pernyataan Direktur Intelijen Nasional AS, Avril Haines di awal-awal masa penyelidikan intelijen AS soal Covid-19, bahwa dia mereka mencoba mencari “senjata api”. De Zayas menuturkan, pernyataan Haines menunjukan bahwa mereka mencari seseorang untuk disalahkan.
Menurutnya, bahasa Haines sendiri menunjukkan bahwa tidak ada minat medis yang tulus tentang Covid-19 atau tentang para korban pandemi.
“Ketika seseorang berbicara tentang “senjata api”, seseorang sudah mengungkapkan bahwa dia sedang mencari “seseorang” untuk disalahkan, daripada menemukan obat yang tahan lama untuk pandemi – apakah influenza, polio, tipus, Ebola, HIV, virus Zika atau Covid-19,” ungkapnya.
Baca: Benarkah Amerika Serikat Danai Rekayasa Covid-19 di Wuhan?
Disinggung soal pernyataan Direktur Intelijen Nasional AS, Avril Haines di awal-awal masa penyelidikan intelijen AS soal Covid-19, bahwa dia mereka mencoba mencari “senjata api”. De Zayas menuturkan, pernyataan Haines menunjukan bahwa mereka mencari seseorang untuk disalahkan.
Menurutnya, bahasa Haines sendiri menunjukkan bahwa tidak ada minat medis yang tulus tentang Covid-19 atau tentang para korban pandemi.
“Ketika seseorang berbicara tentang “senjata api”, seseorang sudah mengungkapkan bahwa dia sedang mencari “seseorang” untuk disalahkan, daripada menemukan obat yang tahan lama untuk pandemi – apakah influenza, polio, tipus, Ebola, HIV, virus Zika atau Covid-19,” ungkapnya.
Lihat Juga :