Terdampak Corona, Maskapai Penerbangan Dunia Terancam Rugi Rp5 Triliun
Rabu, 22 April 2020 - 10:06 WIB
loading...
A
A
A
Juniac menambahkan, sekitar 25 karyawan yang berhubungan dengan dunia penerbangan terancam kehilangan pekerjaan. Tanpa adanya dana bantuan dan kebijakan pemerintah, sebagian maskapai penerbangan tidak akan mampu bertahan hidup.
Operator bandara di Inggris menyatakan, banyak booking penerbangan yang dibatalkan sejak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyarankan agar tidak melakukan perjalanan non-esensial. Mereka pesimistis kondisi akan kembali normal dalam waktu dekat.
Asosiasi Operator Bandara (AOB) menyatakan, sekitar 50-80% karyawan dirumahkan di berbagai lokasi. Operasi penerbangan pesawat sipil nyaris mati total, sedangkan skema bantuan yang dirancang pemerintah dinilai kurang memadai.
Seperti dilansir Reuters, Virgin Australia Holding Ltd menyatakan membuka administrasi voluntary untuk menghidupkan bisnis dan memperkuat posisi keuangan setelah terpukul wabah Covid-19 dan utang.
Deloitte telah ditunjuk sebagai administrator Virgin setelah maskapai penerbangan itu gagal memperoleh pinjaman senilai AUD1,4 miliar dari pemerintah federal. Meski demikian, tim saat ini yang dipimpin CEO Paul Scurrah akan melanjutkan operasi.
Operator bandara di Inggris menyatakan, banyak booking penerbangan yang dibatalkan sejak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyarankan agar tidak melakukan perjalanan non-esensial. Mereka pesimistis kondisi akan kembali normal dalam waktu dekat.
Asosiasi Operator Bandara (AOB) menyatakan, sekitar 50-80% karyawan dirumahkan di berbagai lokasi. Operasi penerbangan pesawat sipil nyaris mati total, sedangkan skema bantuan yang dirancang pemerintah dinilai kurang memadai.
Seperti dilansir Reuters, Virgin Australia Holding Ltd menyatakan membuka administrasi voluntary untuk menghidupkan bisnis dan memperkuat posisi keuangan setelah terpukul wabah Covid-19 dan utang.
Deloitte telah ditunjuk sebagai administrator Virgin setelah maskapai penerbangan itu gagal memperoleh pinjaman senilai AUD1,4 miliar dari pemerintah federal. Meski demikian, tim saat ini yang dipimpin CEO Paul Scurrah akan melanjutkan operasi.
Lihat Juga :