Warga Gaza Keracunan Perlahan, 97% Air Tidak Layak Diminum
Selasa, 05 Oktober 2021 - 18:35 WIB
loading...
Gadis Palestina minum air dari kran di kamp pengungsi Jabaliya, Jalur Gaza, 24 Januari 2017. Foto/REUTERS
A
A
A
JALUR GAZA - Warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza keracunan perlahan karena 97% air di daerah itu tidak layak diminum. Data ini berdasarkan laporan Euro-Med Monitor.
Pernyataan bersama yang dikeluarkan Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania dan Institut Global untuk Air, Lingkungan dan Kesehatan (GIWEH) kepada sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC), mengungkapkan, "Blokade Israel jangka panjang telah menyebabkan kemunduran serius keamanan air di Gaza."
“Blokade Israel menyebabkan 97% air terkontaminasi, sementara penduduk daerah kantong yang terkepung dipaksa mengalami keracunan perlahan," papar laporan itu.
Baca juga: Suriah Kini Bisa Mengakses Data Interpol, Para Pengkritik Rezim Khawatir
Mohammad Shehadeh, dari Euro-Med Monitor, mengatakan kepada UNHRC bahwa, “Kami bersama GIWEH ingin menarik perhatian Anda pada kerusakan parah dalam keamanan air Jalur Gaza, terutama karena pengepungan berkepanjangan Israel, diselingi serangan militer berkala."
Baca juga: Data 1,5 Miliar Pengguna Facebook Ditawarkan Dijual di Web Gelap
Shehadeh mengatakan krisis listrik membuat situasi "lebih buruk" karena merusak pengoperasian sumur air dan pabrik pengolahan air limbah. "Ini menyebabkan sekitar 80% limbah Gaza yang tidak diolah dibuang ke laut sementara 20% meresap ke air bawah tanah," papar dia.
Baca juga: Bank of America, Southwest Airlines, Zoom, dan Snapchat Ikut Down: Siapa Perusaknya?
Dia menyebut serangan Israel terbaru di Gaza yang terjadi pada Mei memperburuk krisis air karena menargetkan infrastruktur air.
“Krisis air ini menghadirkan ancaman serius bagi kesehatan penduduk yang terkepung, di mana data terbaru menunjukkan sekitar seperempat penyakit yang menyebar di Gaza disebabkan polusi air, dan 12% kematian anak-anak dan bayi terkait penyakit usus akibat air yang terkontaminasi," ujar Shehadeh.
"Penduduk sipil yang terkurung di daerah kumuh beracun sejak lahir sampai mati, dipaksa menyaksikan keracunan lambat anak-anak dan orang-orang terkasih mereka oleh air yang mereka minum dan kemungkinan tanah tempat mereka mengambil air, tanpa henti, tanpa perubahan yang terlihat," ungkap dia.
Menutup pernyataan itu, Shehadeh memperingatkan, "Tidak ada pembenaran yang mungkin untuk situasi ini. Adalah kewajiban otoritas pendudukan dan komunitas internasional untuk sepenuhnya menjamin hak warga Gaza atas keamanan air."
Pernyataan bersama yang dikeluarkan Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania dan Institut Global untuk Air, Lingkungan dan Kesehatan (GIWEH) kepada sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC), mengungkapkan, "Blokade Israel jangka panjang telah menyebabkan kemunduran serius keamanan air di Gaza."
“Blokade Israel menyebabkan 97% air terkontaminasi, sementara penduduk daerah kantong yang terkepung dipaksa mengalami keracunan perlahan," papar laporan itu.
Baca juga: Suriah Kini Bisa Mengakses Data Interpol, Para Pengkritik Rezim Khawatir
Mohammad Shehadeh, dari Euro-Med Monitor, mengatakan kepada UNHRC bahwa, “Kami bersama GIWEH ingin menarik perhatian Anda pada kerusakan parah dalam keamanan air Jalur Gaza, terutama karena pengepungan berkepanjangan Israel, diselingi serangan militer berkala."
Baca juga: Data 1,5 Miliar Pengguna Facebook Ditawarkan Dijual di Web Gelap
Shehadeh mengatakan krisis listrik membuat situasi "lebih buruk" karena merusak pengoperasian sumur air dan pabrik pengolahan air limbah. "Ini menyebabkan sekitar 80% limbah Gaza yang tidak diolah dibuang ke laut sementara 20% meresap ke air bawah tanah," papar dia.
Baca juga: Bank of America, Southwest Airlines, Zoom, dan Snapchat Ikut Down: Siapa Perusaknya?
Dia menyebut serangan Israel terbaru di Gaza yang terjadi pada Mei memperburuk krisis air karena menargetkan infrastruktur air.
“Krisis air ini menghadirkan ancaman serius bagi kesehatan penduduk yang terkepung, di mana data terbaru menunjukkan sekitar seperempat penyakit yang menyebar di Gaza disebabkan polusi air, dan 12% kematian anak-anak dan bayi terkait penyakit usus akibat air yang terkontaminasi," ujar Shehadeh.
"Penduduk sipil yang terkurung di daerah kumuh beracun sejak lahir sampai mati, dipaksa menyaksikan keracunan lambat anak-anak dan orang-orang terkasih mereka oleh air yang mereka minum dan kemungkinan tanah tempat mereka mengambil air, tanpa henti, tanpa perubahan yang terlihat," ungkap dia.
Menutup pernyataan itu, Shehadeh memperingatkan, "Tidak ada pembenaran yang mungkin untuk situasi ini. Adalah kewajiban otoritas pendudukan dan komunitas internasional untuk sepenuhnya menjamin hak warga Gaza atas keamanan air."
(sya)
Lihat Juga :