Empat Kekuatan Nuklir Bekerja Sama Pastikan Taliban Bentuk Pemerintahan Inklusif

Minggu, 26 September 2021 - 11:03 WIB
loading...
Empat Kekuatan Nuklir...
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Foto/news.un.org
A A A
NEW YORK - Amerika Serikat (AS), China , Rusia , dan Pakistan bekerja sama untuk memastikan bahwa penguasa baru Afghanistan , Taliban , menepati janji mereka, terutama untuk membentuk pemerintahan yang benar-benar representatif dan mencegah penyebaran ekstremisme. Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.

Lavrov mengungkapkan perwakilan dari Rusia, China dan Pakistan telah melakukan perjalanan ke Ibu Kota Qatar, Doha. Mereka juga telah menyambangiIbu Kota Afghanistan, Kabul, untuk terlibat dengan Taliban dan perwakilan dari "otoritas sekuler" mantan presiden Hamid Karzai dan Abdullah Abdullah, yang memimpin dewan negosiasi pemerintah yang digulingkan Taliban.

"Pemerintah sementara yang diumumkan oleh Taliban tidak mencerminkan seluruh masyarakat Afghanistan - kekuatan etnis-agama dan politik - jadi kami terlibat dalam kontak, mereka sedang berlangsung," kata Lavrov di Sidang Umum PBB seperti dikutip dari AP, Minggu (26/9/2021).

Baca juga: Kekuatan Dunia Sepakat Tekan Taliban Bentuk Pemerintahan Inklusif

Taliban telah menjanjikan pemerintah yang inklusif, bentuk pemerintahan Islam yang lebih moderat daripada ketika mereka terakhir memerintah negara itu dari tahun 1996 hingga 2001. Itu termasuk menghormati hak-hak perempuan, menjaga stabilitas negara setelah 20 tahun perang, dan menghentikan kelompok teroris menggunakan wilayah mereka untuk melancarkan serangan.

Tetapi langkah-langkah yang baru-baru ini diambil menunjukkan jika Taliban mungkin kembali ke kebijakan yang lebih represif, terutama terhadap perempuan dan anak perempuan.

Lavrov juga menyinggung perjanjian nuklir Iran. AS telah mendesak Iran untuk melanjutkan negosiasi nuklir, tetapi Lavrov mengatakan bahwa Presiden Donald Trump saat itu yang menarik AS keluar dari perjanjian nuklir.

"Jadi untuk menyatakan bahwa waktu hampir habis, siapa pun dapat mengatakan ini tetapi tidak Washington,” tegasnya.

Baca juga: Menlu Jerman: Show Taliban di PBB Tidak akan Ada Gunanya

Dia mengatakan Rusia ingin melihat dimulainya kembali negosiasi untuk mengembalikan kesepakatan awal sesegera mungkin.

"Tetapi para pemimpin pemerintahan baru Iran mengatakan bahwa mereka membutuhkan setidaknya beberapa minggu, dan mudah-mudahan tidak lebih, untuk mengumpulkan tim perunding karena mereka memiliki beberapa perubahan staf,” ucapnya.

Lavrov juga membela keputusan pemerintah transisi di Mali untuk menyewa sebuah perusahaan militer swasta Rusia untuk membantu memerangi teroris, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki hak "sah" untuk melakukannya dan pemerintah Rusia tidak terlibat.

Sebelumnya Prancis telah mengumumkan akan mengurangi kekuatannya untuk memerangi ekstremis di Mali dan kawasan itu.

"Pasukan Prancis seharusnya memerangi teroris yang telah membangun kehadirannya di Kidal (di Mali utara), tetapi mereka tidak berhasil melakukannya. Dan teroris terus berkuasa di daerah itu,” sentil Lavrov.

Baca juga: Taliban Ingkar Janji, Minoritas Syiah Afghanistan Ancam Lanjutkan Bentrokan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Terbang ke Israel, Pesawat...
Terbang ke Israel, Pesawat Komersial Polandia Kirim Sinyal Pembajakan
Rekomendasi
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Tanggapan Resmi DJP
PN Jaktim Izinkan Siaran...
PN Jaktim Izinkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa kecuali Tahap Pembuktian
Seskab Teddy Ungkap...
Seskab Teddy Ungkap Program Magang Nasional Rangkul Difabel, Pengamat: Terobosan Paling Progresif
Berita Terkini
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Infografis
AS Unjuk Kekuatan dengan...
AS Unjuk Kekuatan dengan 12 Pesawat Pengebom Siluman Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved