AS, Australia dan Inggris Bentuk Aliansi Pertahanan Nuklir untuk Lawan China

Kamis, 16 September 2021 - 02:27 WIB
loading...
AS, Australia dan Inggris...
Para tentara China parade militer dengan rudal-rudal berkemampuan nuklir. Foto/REUTERS/David Gray
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS), Australia dan Inggris dilaporkan membentuk aliansi pertahanan nuklir. Ketiganya akan berbagi teknologi canggih, termasuk infrastruktur pertahanan nuklir, dengan tujuan untuk melawan China .

Sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan kepada Politico bahwa Presiden Joe Biden akan mengumumkan pakta berbagi teknologi tiga arah itu pada Kamis (16/9/2021) pagi waktu Australia. Ketiga negara akan bertemu untuk membahas berbagai ancaman, termasuk dari Beijing.

Baca juga: Pembelot China Peringatkan AS soal COVID-19 Lima Bulan sebelum Pandemi

Seorang pejabat Gedung Putih yang menolak disebutkan namanya dan seorang staf Kongres mengatakan pakta pertahanan baru itu akan disebut sebagai "AUUKUS", akronim dari Australia (AU), Inggris atau United Kingdom (UK) dan AS atau United State (US).

Aliansi ini akan fokus pada berbagi informasi di berbagai bidang seperti artificial intelligence [kecerdasan buatan], keamanan siber, kemampuan serangan jarak jauh, dan bahkan infrastruktur pertahanan nuklir.

Sydney Morning Herald melaporkan Presiden AS Joe Biden dijadwalkan akan menyampaikan pengumuman penting mengenai penguatan aliansi pertahanan ini pada pukul 07.00 pagi. Beberapa menteri kabinet berpangkat tinggi diberikan pengecualian langka dari penguncian ultra-keras Australia untuk menghadiri pertemuan yang diatur dengan tergesa-gesa di ibu kota setempat, Canberra.

Biden diperkirakan akan menyampaikan komentar singkat tentang inisiatif keamanan nasional, sementara hal-hal lain untuk didiskusikan termasuk bagaimana aliansi itu dapat menyerang balik terhadap manuver perdagangan China dan apa yang disebut “serangan zona abu-abu", peningkatan akses ke teknologi rudal Amerika untuk Australia, penarikan militer yang kontroversial dari Afghanistan, dan sifat ancaman teroris di masa depan.

Meskipun saat ini tidak ada senjata nuklir AS yang ditempatkan di Australia, beberapa pihak berspekulasi bahwa pakta pertahanan baru ini akan melibatkan perluasan infrastruktur rudal Amerika ke benua itu untuk mengatasi dugaan ancaman yang ditimbulkan oleh China.

AS dan China sering saling tuding meningkatkan ketegangan dan perilaku provokatif di kawasan dengan melakukan latihan Angkatan Laut. AS secara teratur melakukan apa yang disebut misi "kebebasan navigasi", berlayar dengan kapal perang di dekat perairan yang diklaim China di Laut China Selatan, yang dipandang Beijing sebagai tindakan militer yang provokatif.

Baca juga: Jenderal Tertinggi AS Kontak China, Trump Sebut Pengkhianatan

Washington, sementara itu, menuduh China mengintimidasi tetangganya dengan mengirim kapal dan jet militernya untuk berpatroli di daerah dekat Taiwan, yang dianggap Beijing sebagai bagian integral dari negara itu.

Washington telah meminta sekutunya di kawasan itu untuk membantu melawan apa yang dianggapnya sebagai kekuatan ekspansionis yang mencoba terlibat dalam provokasi. China menyatakan bahwa kehadiran Angkatan Laut AS di Selat Taiwan mengirimkan sinyal yang salah ke Taiwan tentang kemerdekaan, dan bahwa tindakan semacam itu sama halnya “bermain dengan api".

Meskipun dilaporkan tidak ada penyebutan secara eksplisit tentang China dalam kesepakatan aliansi baru itu, Politico melaporkan peluncuran "AUUKUS" adalah langkah lain oleh sekutu Barat untuk mendorong kembali kebangkitan China di arena militer dan teknologi.

PM Australia Scott Morrison dijadwalkan bertemu dengan Presiden Biden secara langsung untuk pertama kalinya minggu depan.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Perkuat Ekonomi Rakyat,...
Perkuat Ekonomi Rakyat, BSI Apresiasi Penempatan SAL untuk Pembiayaan Produktif
Investasi Hijau, Pertamina...
Investasi Hijau, Pertamina Port & Logistics Tanam 600 Mangrove di Balikpapan
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
India Gunakan S-400...
India Gunakan S-400 Rusia dan Drone Israel untuk Lawan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved