Pernah Penjarakan Anggota Taliban, Hakim Wanita Afghanistan Diburu
Sabtu, 04 September 2021 - 04:33 WIB
loading...
A
A
A
"Pemerintah (Barat) sama sekali tidak tertarik untuk mengevakuasi orang-orang yang bukan warga negaranya sendiri," kata Sarah Kay, pengacara hak asasi manusia yang berbasis di Belfast dan anggota jaringan pengacara internasional Atlas Women.
Baca juga: Inggris Tak akan Akui Rezim Taliban tapi Tetap Bekerja Sama
Dia bekerja dengan sekelompok veteran sukarelawan online yang dikenal sebagai "Dunkirk digital", dinamai sesuai dengan evakuasi pasukan Inggris pada Perang Dunia II dari Prancis yang diduduki Nazi.
Badan ini telah membantu ratusan orang melarikan diri dengan bantuan grup obrolan dan kontak pribadi.
Di IAWJ, tim yang terdiri dari enam hakim asing juga telah mengoordinasikan informasi, melobi pemerintah, dan mengatur evakuasi.
"Tanggung jawab yang kami pikul hampir tak tertahankan saat ini karena kami adalah salah satu dari sedikit orang yang bertanggung jawab atas kelompok ini," salah satu pemimpin upaya tersebut, Patricia Whalen, seorang hakim Amerika yang membantu melatih hakim perempuan Afghanistan selama 10 tahun kepada Reuters.
"Saya sangat marah tentang itu. Tak satu pun dari kita harus berada dalam posisi ini," tukasnya.
Baca juga: Inggris Tak akan Akui Rezim Taliban tapi Tetap Bekerja Sama
Dia bekerja dengan sekelompok veteran sukarelawan online yang dikenal sebagai "Dunkirk digital", dinamai sesuai dengan evakuasi pasukan Inggris pada Perang Dunia II dari Prancis yang diduduki Nazi.
Badan ini telah membantu ratusan orang melarikan diri dengan bantuan grup obrolan dan kontak pribadi.
Di IAWJ, tim yang terdiri dari enam hakim asing juga telah mengoordinasikan informasi, melobi pemerintah, dan mengatur evakuasi.
"Tanggung jawab yang kami pikul hampir tak tertahankan saat ini karena kami adalah salah satu dari sedikit orang yang bertanggung jawab atas kelompok ini," salah satu pemimpin upaya tersebut, Patricia Whalen, seorang hakim Amerika yang membantu melatih hakim perempuan Afghanistan selama 10 tahun kepada Reuters.
"Saya sangat marah tentang itu. Tak satu pun dari kita harus berada dalam posisi ini," tukasnya.
(ian)
Lihat Juga :